15.2.10

HIDUP BERSAMA DENGAN RUKUN

HIDUP BERSAMA DENGAN RUKUN
Mazmur 133:1-3

PENDAHULUAN

Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, ada hubungan yang akrab, mesra, indah, dan rukun antara manusia dengan Allah [vertikal] dan manusia dengan manusia {horizontal]. Ada kasih yang terjalin antara manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia. Namun setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, kerukunan pun jadi terusik bahkan semakin parah. Buktinya, Kain membunuh adiknya, Habel. Dalam khotbah kali ini, kita akan membahas tentang kenapa begitu pentingnya hidup bersama dengan rukun, apa saja berkat yang kita peroleh dari hidup bersama dengan rukun, apa saja yang menjadi musuh kerukunan tersebut, dan apa kunci untuk hidup bersama dengan rukun?

PEMBAHASAN

Mazmur 120-134 dikelompokkan ke dalam “Nyanyian Ziarah”. Artinya : Mazmur/nyanyian pendakian yang dinyanyikan oleh umat Israel secara bersama-sama ketika mereka naik ke bait Allah di Yerusalem. Bagi bangsa Israel, khususnya Mazmur 133 ini sangat terkenal dengan sebutan : “Mazmur tentang kerukunan kekeluargaan umat Allah”. Dengan kata lain, mazmur ini merupakan mazmur yang menekankan : “Alangkah pentingnya, indahnya, dan baiknya : ‘Hidup Bersama Dengan Rukun’”.

Pertanyaan : “Kenapa kerukunan menjadi sesuatu yang sangat penting, indah, dan baik”? Yesus berkata : “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak akan dapat bertahan”. [Mat. 12:25] Yesus dalam konteks ini sedang bebicara kepada orang-orang Farisi yang menuduh Dia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul [penghulu setan]. Yesus menjelaskan kepada mereka, bahwa tidak mungkin Iblis mengusir Iblis. Jika memang benar demikian, maka Iblis itu terbagi-bagi [terpecah-pecah/tidak ada kesatuan] dan melawan dirinya sendiri. Akibatnya, tidak mungkin kerajaannya dapat bertahan. Dari ucapan Yesus ini tersirat sebuah kebenaran bahwa : Kerajaan Iblis dapat bertahan sampai sekarang karena adanya kerukunan/kesatuan di antara mereka. Ini merupakan sindiran, teguran, dan nasihat yang sangat tajam kepada orang Farisi pada saat itu dan juga kepada kita dewasa ini.

Semboyan penjajah : “Devide et impera” ~ artinya : pecah-belah dahulu, baru kuasai berbeda dengan semboyan bangsa Indonesia : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Hal ini terwujud dalam Sumpah Pemuda [28 Oktober 1928] yang intinya berbunyi : “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa”.

Sekarang jelaslah bagi kita, kenapa kerukunan/kesatuan itu mutak penting dalam hidup kita. Jawabannya : Karena kerukunan, persatuan, kesatuan, kebersamaan, dan persekutuan itu adalah sebuah “KEKUATAN” Buktinya : Katika manusia di zaman dulu membangun “Menara Babel”. Tuhan sendiri mengakui dengan mengatakan :”Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka, mulai dari sekarang, apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana”. [Kej. 11:6]. Kenapa Tuhan berkata demikian? Ayat 3 dan 4 berkata : “Marilah kita…….”. Ini menunjukkan adanya kekompakan, kerukunan, dan kesatuan diantara mereka untuk membangun Menara Babel tersebut. Memang pada akhirnya, Tuhan menggagalkan usaha mereka karena tujuannya tidak sesuai dengan yang diinginkan Tuhan ~ untuk mencari nama [kesombongan] dan supaya jangan terserak ke seluruh bumi [ini bertolak belakang dengan rencana Allah sejak semula [bdk. Kej. 1:28 ~ penuhilah bumi….]. Namun yang jelas, ketika mereka bersatu membangun Menara Babel tersebut, Tuhan berkata, “…mulai dari sekarang, apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana”. [Kej. 11:6b]

Kesatuan atau kerukunan yang benar adalah kesatuan/kerukunan yang dibangun di atas dasar kebenaran [firman Tuhan], bukan seperti kesatuan/kesepakatan/kekompakan yang dimiliki oleh Ananias dan Safira yang sama –sama sepakat berbohong kepada hamba Tuhan [Petrus] dan bebohong kepada Allah juga.

Pengkhotbah 4:9-12 : “Berdua lebih baik daripada seorang diri” Dengan kata lain : ‘Hidup rukun/bersatu lebih baik daripada seorang diri’ Kenapa?
1. Mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka
2. Kalau yang seorang jatuh, yang lain dapat mengangkat
3. Tali tiga lembar tidak mudah diputuskan

GAMBARAN DARI HIDUP BERSAM DENGAN RUKUN [Mzm. 133:2-3a]

1. Seperti minyak yang baik
Bagi masyarakat Yahudi, minyak menggambarkan banyak hal :
a. Kesukaan ~ sukacita Tuhan adalah perlindungan dan kekuatan
b. Keharuman [Kidung Agung 1:3] ~ Kita menjadi suratan Kristus yang terbuka. Ingat : Perbuatan Maria yang menumpahkan minyak narwastu murni di kaki Yesus [Yoh. 12:3]. Alkitab berkata : bau minyak smerbak di seluruh rumah itu. Artinya : keharuman itu dinikmati oleh orang lain ~ jadi berkat bagi orang lain
c. Ketenteraman. Di dalam kerukunan/kesatuan ada ketenteraman, bukan justru kecurigaan atau kecemasan
d. Minyak pengurapan : “sesuatu yang menguduskan/menyucikan”. Setiap manusia pasti ada kekurangan dan kelebihan, di dalam kerukunan dan kesatuan akan disempurnakan
e. Minyak yang meleleh : Gambaran dari kemurahan Tuhan yang mencurahkan anugerah yang berlimpah untuk menguduskan/menyucikan manusia yang hidup bersama dengan rukun
2. Seperti Embun menggambarkan :
a. Kesegaran/kesejukan. Kesegaran ilahi akan melingkupi orang yang hidup bersama dengan rukun. Dalam Roma 1:10-12, Paulus berkata bahwa ia telah berulang-ulang ingin berjumpa dengan Jemaat Roma, supaya pertemuan antara imannya dengan iman jemaat Roma membawa dampak yang mengobarkan/menyegarkan bagi mereka, sehingga muncullah sukacita yang melimpah.
b. Perlu diperhatikan ungkapan “Seperti embun gunung Hermon mengalir atau turun ke bukit Sion”. Gunung Hermon berada di Kerajaan Utara sangat jauh letaknya dari bukit Sion yang terletak di kerajaan Selatan. Pertanyaan : Bagaimana mungkin embun dari satu gunung yang letaknya jauh dari gunung lain bias dialiri oleh embun? Kita tahu, sifat dari embun itu tidak dapat bertahan lama. Ini sebetulnya ingin menggambarkan bahwa kesatuan/kerukunan itu adalah sebuah mujizat. Apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Ilustrasi : [1]. Gunung yang besar bisa dirobohkan jika ada kesatuan/kerukunan untuk memindahkannya [2]. Lidi yang kurus kecil dapat membersihkan halaman yang luas jika lidi itu bersatu

MUSUH DARI HIDUP RUKUN

1. Kesombongan : Merasa mampu melakukan segala sesuatu tanpa orang lain, juga termasuk tanpa Tuhan
Ilustrasi : Jari tangan ~ Ibu jari [aku yang paling topdan paling hebat], jari telunjuk [aku yang paling pintar dan jenius, ketika orang menjawab di kelas, saya yang selalu ditonjolkan], jari tengah [aku paling tinggi, kalian semua ada di baah saya], jari manis [aku paling kaya, konglomerat, orang sering menaruh cincin ke saya], jari kelingking [aku yang paling kecil, paling hina, paling rendah, orang lagi marah memukul meja, aku yang duluan sakit dan kejepit, ketika kuping dan hidung orang sedang gatal, aku yang harus dimasukkan ke sana]. Pertnayaan : Ketika nanti menghadap Raja segala Raja, siapa yang di depan? Tentunya jari kelingking. Yang merendahkan hati akan ditinggikan Tuhan. Amin
2. Keegoisan : Menilai segala sesuatu menurut kepentingan dan kebenaan diri sendiri. Ilustrasi : Mimpi Hamba Tuhan bernama John Wesley dibawa oleh malaikat ke dua tempat yang berbeda, yakni Neraka dan Sorga. Ketika sampai di Neraka, dia bertanya : Apakah orang katolik, pentakosta, presbiterian, dan metodis ada di sana? Malaikat menjawab : Ada, bahkan banyak. Ketika dibawa ke sorga , dia memberikan pern\tanyaan yang sama. Malaikat menjawab : Tidak ada, bahkan tidak ada sama sekali. John Wesley bingung dan terheran-heran. Kemudian dia bertanya sekali lagi, “kalau begitu siapa yang masuk ke sorga? Malaikat menjawab dengan mantap, “Bukan orang Katolik, bukan pentakosta, bukan presbiterian, bukan pula metodis, tetapi setiap orang yang percaya kepada Kristus dan yang setia kepada-Nya.” Seringkali pertengkaran, perselisihan, permusuhan terjadi di antara tubuh Kristus oleh karena ada orang tertentu yang terlalu egois menganggap bahwa gerejanyalah yang paling benar. Tentu hal itu tidak boleh terjadi. Kita adalah satu, yaitu sebagai tubuh Kristus dan Kristus sendirilah Kepala gereja-Nya.

BERKAT DARI HIDUP RUKUN [Mzm. 133:3b]

1. Allah “senang” memberkatinya. Ingat : Allah kita adalah Allah yang “senang” dan “sanggup” memeberkati kita.
2. Berkat yang diberikan adalah berkat yang membawa kepada kehidupan. Apa itu berkat? Berkat adalah segala sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita dimana selalu mebawa kita semakin dekat dengan Tuhan. Inilah berkat yang membawa kepada kehidupan. Ada banyak orang memiliki berkat, tetapi justru dengan berkat itu ia jadi menjauh dari Tuhan, bahkan melupakan Tuhan

KUNCI HIDUP RUKUN/BERSATU [Kolose 3:14]
-Hidup saling Mengasihi sama seperti Kristus mengasihi kita [Yoh. 15:9-10], bukan sekadar hanya sama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Kenapa kunci hidup rukun/bersatu adalah kasih? Karena kasih itu memiliki fungsi sebagai pengikat, pemersatu, dan penyempurna
Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...