18.2.10

TELADAN HIDUP AYUB


IMAN YANG SEJATI
Ayub 1:1-22

PENDAHULUAN

o Dalam tulisan-tulisan Ibrani, kitab Ayub termasuk dalam kelompok sastra [kethuvim]
o Secara tradisi, kitab ini diyakini sebagai kitab perumpamaan
o Sebagai sebuah karya sastra, kitab Ayub berisi filsafat yang dirangkaikan menjadi semacam prosa dan syair
o Pendahuluan dan penutup kitab ini berbentuk prosa dan sebagian besar isinya merupakan syair yang dirangkaikan dalam bentuk dialog.
o sah Ayub adalah kisah historis. Ia tinggal di tanah Us
Kisah Ayub menginspirasi banyak orang ketika diperhadapkan dengan kesulitan dan penderitaan hidup
Kisah Ayub memberi semangat bagi banyak orang di saat menghadapi pergumulan hidup yang begitu besar dan begitu berat
Kisah Ayub merupakan tipologi dari hidup Yesus Kristus

Pembahasan
1. Siapakah Ayub itu ?

• Saleh & jujur : matang, watak yang seimbang, kepribadian yang mantap
• Takut akan Tuhan & menjauhi kejahatan
• Pengakuan ini datang dari Tuhan [ay-8b ; 2:3]
• Ayub : keluarga harmonis [bahagia] [ay-2]
• Ayub : orang yang terkaya [3 H] [ay-3
• Ayub : seorang imam yang kudus dalam keluarganya[ay-5]

2. Iblis tidak suka dengan keberhasilan Ayub [ay- 6-12]

• Iblis berjalan mengelilingi dan menjelajah bumi [6]
• Iblis menuduh Ayub secara salah dihadapan Tuhan [1]. Ayub takut akan Tuhan mendapat apa-apa dari Tuhan [9] [2]. Tuhan memegari hidup Ayub, rumahnya, dan segala yang dimilikinya [10a] [3]. Tuhan memberkati apa yang dikerjakan Ayub dan apa yang dimilikinya semakin bertambah [10b]
• Iblis berpikir, jika Tuhan menjamah segala yang dipunyai Ayub, maka ia akan mengutuki Tuhan [11]
• Tuhan mengijinkan Iblis menguji Ayub lewat menjamah segala yang dipunyainya [12], lewat menimpa Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya [2:7]

3. Ayub diuji dalam tujuh cara [1:13-19 ; 2:1-8]
• Ekonomi : Ia kehilangan segala yang ia miliki [harta, mata pencaharian, pegawai-pegawai] [1:13-17]
• Rumah tangga : Ia kehilangan semua anaknya dalam badai kencang, isterinya berbalik melawannya [1:18 ; 2:9]
• Jasmani : Tubuhnya ditimpa kesakitan yang hebat dan bisul-bisul selama 18 bulan [2:7-8]
• Sosial : Keluarga dan teman-temannya salah menilai dan meninggalkannya. Orang-orang sekitarnya akan memandang rendah kepadanya dan berbicara jahat tentangnya. Reputasinya yang terhormat hancur untuk sementara waktu
• Mental : Ia menjadi sangat bingung
• Emosional : Ia sangat tertekan, keadaan-keadaan di sekitarnya tampak tidak ada harapan
• Rohani : Ayub merasa bahwa Allah sedang berdiam diri, tidak peduli atas penderitaannya, Allah terasa sangat jauh

4. Sikap Ayub terhadap semua penderitaannya

• Ayub berkabung [bersedih] [1:20a]
• Ayub merendahkan diri dihadapan Tuhan [sujud menyembah] [1:20b]
• Ayub memuji Tuhan. Ada 2 kiat : [1]. Pujian : Hati sebagai hamba [2]. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil [1:21]
• Ayub tidak berdosa & tidak menyalahkan Tuhan [1:22 ; 2:10]. Ia tidak menuduh Tuhan berbuat yang kurang patut kepadanya. Ia tetap percaya, Tuhan punya rencana yang baik [Yer. 29:11]

Akhir hidup Ayub
  • Ayub selama diuji : Allah membuat dia semakin benar dan kudus
  • Ayub mengungkapkan suatu perkataan yang menguatkan orang percaya sepanjang zaman : “Maka jawab Ayub kepada Tuhan :Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal”. [42:1-2]
  • Ayub makin diperkaya dlm pengalaman & pengenalannya akan Tuhan [42:5]
  • Hidup dan keadaan Ayub dipulihkan secara utuh oleh Tuhan [42:10-16] : [1]. Porsi ganda [42:10] [2]. Relasi sosialnya dipulihkan [42:11] [3]. Ekonominya dipulihkan [42:12] [4]. Keluarganya dipulihkan [13-15] [5]. Ayub diperkenan Tuhan menikmati berkatnya [42:16]

TUJUAN DAN MANFAAT PENDERITAAN

TUJUAN DAN MANFAAT PENDERITAAN

Pendahulan
Masalah adalah pelayan kita. Harus diingat : Banyak kualitas kekal yang tidak terhasilkan bila kita tidak memiliki masalah. Itu sebabnya, Tuhan mengizinkan “masalah” dengan tujuan untuk mengerjakan “sesuatu” yang luar biasa dan bernilai kekal di dalam hidup kita. Dalam pertemuan sebelumnya, kita telah belajar 3 dari 23 tujuan dan manfaat penderitaan yang tertera di dalam Alkitab, yaitu :

[1]. Menghancurkan Kesombongan.
[2]. Menunjukkan kepada kita apa yang ada di dalam hati kita.
[3]. Membuat kita lemah lembut dan berbelas kasihan. Pentingnya kita mempelajari hal ini, supaya kita dapat memandang kesulitan sebagai batu loncatan untuk membawa kita semakin maju di dalam Tuhan. Empat tujuan dan manfaat penderitaan berikutnya adalah :

[4]. Menolong kita berhenti berbuat dosa.
Penderitaan menghancurkan “bakat” atau kecendrungan untuk berbuat dosa. “…. Barangsiapa telah menderita penderitaan badani {dengan rela}, ia telah berhenti berbuat dosa” [ 1 Ptr 4:1]. Tidak peduli betapa tulus hati dan sungguh-sungguhnya kita kepada Allah, tetap ada “bakat-bakat” yang kuat dalam sifat dasar kita yang harus ditundukkan seperti keangkuhan, harga diri, kekeras-kepalaan, dan kemarahan. Penderitaan-penderitaan seringkali merupakan alat-alat yang dapat mengendalikan bakat-bakat ini.

5. Membuat kita kokoh dan tidak berkompromi.
“Akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya” {1Ptr.5:10}. Penderitaan membawa kita kepada kedewasaan! Hal ini membuat kita teguh dan menyingkirkan kompromi dari diri kita. Bila kita sudah membayar harga yang mahal bagi kebenaran, kita akan menghargainya dengan segenap hati [Ams. 23:23]. Kita tidak menghargai hal-hal yang untuknya kita tidak mengorbankan apa-apa.

6. Mendatangkan damai sejahtera.
Allah ingin menghadapi setiap hal dalam hidup kita yang sedang merampas damai sejahtera dari kita. Kemarahan, keangkuhan dan kekacauan lain dalam jiwa merampas damai kita. Allah menangani konflik-konflik batin ini tatkala kita sedang melalui api penderitaan. Ketika ketiga orang Ibrani berada dalam tungku perapian, ada Seorang lain bersama-sama mereka di dalam api. Satu-satunya hal yang terbakar adalah ikatan-ikatan mereka. Yang dihanguskan oleh api hanyalah ikatan-ikatan mereka {Dan. 3:21, 25}. Maksud dari ujian yang panas ini adalah untuk menghanguskan ikatan-ikatan kita, tanpa melukai kita sama sekali. Setelah kita disesah oleh Allah dan semua pergolakan ini dimurnikan, akan muncullah sejumlah besar “buah kebenaran yang memberikan damai” sebagaimana disebutkan oleh Paulus dalam Ibrani 12:11, Mzr 94:12-13.

7. Menjaga kita tetap berada di dalam jalur Allah.
“Sebelum aku tertindas, aku menyimpang ….” {Mzr 119:67}. Acapkali hajaran dari Tuhan menghalangi kita agar tidak keluar dari jalan Allah. Bahkan mungkin tongkat-Nyalah yang membawa kita kembali kepada jalan itu. Tetapi hal lain yang terkandung di sini ialah bila kita memiliki suatu problem atau gunung yang luar biasa besar dalam hidup kita, cara tercepat untuk melewatinya ialah ialah melalui terowongan. Terowongan itu gelap serta sepi dan bahkan menakutkan, namun jalan itulah yang tercepat, dan juga membuat kita tetap berada dalam jalan yang benar. Allah mungkin saja membawa kita melalui suatu pengalaman terowongan. Pengalaman itu gelap, namun kita bergerak dalam arah yang tepat dan kita dijaga agar kita menyimpang. Allah mungkin membuat kita terkungkung untuk sementara waktu, namun Ia sedang mencegah kita agar tidak berpaling ke kiri atau ke kanan. Ingatlag, Allah telah memilih jalur yang terbaik bagi hidup kita. Karena itu, mari kita bersyukur atas kesetiaan-Nya.

SIKAP HIDUP YANG BERKEMENANGAN

SIKAP HIDUP YANG BERKEMENANGAN
Matius 7:7-11

Pendahuluan
Persoalan yang dihadapi oleh manusia seringkali menimbulkan berbagai akibat, diantaranya rasa takut, kuatir, putus asa, dll. Tetapi firman TUHAN berkata, “Jangan takut, jangan kuatir, jangan putus asa.” Mengapa sebagaian orang tetap dalam ikatan kekuatiran, tetapi yang lain justru hidup berkemenangan? Hal itu ditentukan oleh sikap masing-masing.

Pembahasan
Dari berbagai sikap yang dipaparkan firman TUHAN, salah satu hal yang sangat penting adalah : “SIKAP PRO-AKTIF”
o Pro-aktif berarti berpihak, menjatuhkan pilihan untuk aktif [giat bekerja, berusaha sungguh-sungguh] dalam melakukan hal-hal yang positif dan benar.
o Pro-aktif berarti beraksi dan bereaksi positif
o Pro-aktif berarti menjemput atau mengejar bola, bukan menunggu bola
o Bukan sekadar atau asal bergerak, tetapi punya arah yang jelas

Konkrit Dari Sikap Pro-Aktif
A. MEMINTA
Dalam ayat 7-8, ada 3 kata kerja yang menonjol dan ketiganya dilakukan dengan tekun artinya suatu tindakan yang dilakukan secara terus-menerus.
  1. Meminta : suatu kesadaran akan kebutuhan dan kepercayaan bahwa Allah mendengarkan doa kita
  2. Mencari [bah. Yunani ~ zeteite – zeteo ~ mencari, menyelidiki, memeriksa, berusaha, berusaha mendapat, menginginkan]. Menunjukkan permohonan yang sungguh-sungguh disertai dengan ketaatan pada kehendak Allah
  3. Mengetok menunjukkan adanya ketekunan dalam menghampiri Allah sekalipun Ia tidak menjawab dengan segera

Contoh Orang Yang Meminta Dalam Alkitab
[1]. Yesus menyembuhkan dua orang buta [Mat. 20:32-34]
[2]. Doa Yeremia ketika ia terkurung di pelataran penjagaan [Yer. 33:3]

Landasan jaminan Kristus Bagi Mereka Yang Meminta Akan Mendapat :
[1]. Mencari dahulu kerajaan Allah [Mat. 6:33]
[2]. Menyadari kebaikan dan kasih Allah selaku Bapa [Mat. 6:8; 7:11]
o Tidak bisa kita berkata, “Ia sudah tahu, jadi tidak perlu meminta lagi [Mat. 6:8]
o Buktinya : Yesus tetap berdoa meminta kepada Bapa-Nya.
[3]. Berdoa sesuai dengan kehendak Allah [1 Yoh. 5:14 ; bdk. Yak. 4:2b-3]
[4]. Memelihara persekutuan dengan Kristus [Yoh. 15:7]
[5]. Menaati Kristus [1 Yoh. 3:22]

[6]. Penuh kepercayaan [Mat. 21:22 ; Yak. 1:5-8]
[7]. Berdoa dengan sungguh-sungguh [ Yak. 5:17-18]
[8]. Hubungan yang harmonis dalam keluarga [1 Pet. 3:5-7]

B. MEMBERI

Tampaknya memberi adalah mudah, mulai dari memberi permen sampai memberi cinta, pokoknya asal kita mempunyainya, kita bisa memberikannya. Betulkah demikian ? Sebetulnya memberi adalah sangat sulit, sebab perbuatan memberi sangat mudah bergeser hakikat dan artinya menjadi perbuatan lain.
1. Memberi bisa bergeser artinya menjadi “membuang”.
o Artinya : “memberi karena mempunyai kelebihan [tidak sanggup atau kewalahan] memeliharanya atau karena tidak memerlukannya lagi.
2. Memberi dapat berubah menjadi “mengikat”.
o Memberi dengan tulus, berarti kita harus ikhlas apapun yang akan diperbuatnya dengan pemberian kita itu.
3. Memberi bisa juga merosot menjadi “menyuap”.
o Artinya : jika kita memberi dengan tekanan agar orang itu berbuat sesuatu untuk kita
o Hal ini bisa terjadi kepada sesama kita dan juga kepada TUHAN
4. Memberi dapat pula merosot menjadi “membayar”.
o Misalnya : melunasi iuran RT dan rekening listrik. Ini bukan memberi. Didalamnya ada unsur keharusan dan peraturan
o Persembahan kita kepada TUHAN pun bisa merosot artinya jika itu dipandang sebagai suatu keharusan, kewajiban, atau peraturan, atau hanya jika gereja menetapkan bahwa sekian % dari perolehan kita harus diberikan kepada TUHAN
o Paulus berkata dalam 2 Kor. 9:7 : “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan”. Kata “paksaan” dari kata Yunani ~ “anagkes” berarti keharusan atau peraturan

Ajaran Yesus Tentang Memberi Dengan Benar :
  • Yesus memuji perbuatan memberi dari seorang janda miskin dengan berkata “…..janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya” [Lukas 21:1-4]
  • Kata “miskin “ [bah. Yunani ~ ptokhe – ptokhos ~ sangat miskin, yang berharap kepada TUHAN, yang tidak berguna. Ini keadaan dari seorang pengemis.
  • Dua sikap yang dipertentangkan Yesus : “memberi dari kelimpahan” dan “memberi dari kekurangan”.
  • Kata “kelimpahan” [bah. Yunani ~ perissenontos – perisseuo ~ berlebih, berkelebihan, berlimpah-limpah.
  • Kata “kekurangan” [bah. Yunani ~ husterematos – husterema ~ kekurangan, hal-hal yang tidak ada.
  • Janda miskin ini memberi seluruh nafkahnya. Kata “nafkah” [bah. Yunani ~ bion – bios ~ nafkah, kehidupannya sehari-hari
  • Perbuatan memberi yang lazim adalah “memberi dari kelimpahan”. Kita memberi kalau kita sendiri sudah cukup atau kalau kita sendiri mempunyai banyak. Namun, Yesus memberi konsep yang baru tentang memberi, yaitu mau memberi walaupun kita sendiri masih kekurangan.
  • Contoh lain : 2 Kor. 8:1-5 ; Fil. 4:14-19
  • Prinsip memberi yang lain :
[1]. Berilah, maka kamu akan diberi [Luk. 6:38 ; Gal. 6:7-10]
[2]. Lemparkanlah rotimu ke air [Pengk. 11:1]
[3]. Memberi Persepuluhan [Maleakhi 3:10] .Tujuan : supaya ada persediaan makanan
di rumah-Ku [Roma 15:26-27]

Konsep Yesus Tentang Memberi :
  • Hal itu terlihat secara jelas dari seluruh hidup dan pengajaran-Nya
  • Ia memberi pengampunan, pengakuan, pertolongan, penghargaan, bahkan memberi diri-Nya sendiri
  • Yesus memberi karena Ia mengasihi dan bersedia berkorban. Ia memberi nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang [Mrk. 10:45]
  • Motivasi Allah dalam memberikan putra-Nya, yaitu “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini”. [Yoh. 3:16]
  • Hidup dan pekerjaan Yesus merupakan dasar yang baru bagi perbuatan memberi.
  • Memberi merupakan pengorbanan dan cinta, bukan hanya pada waktu kelimpahan, tetapi juga pada waktu kekurangan
  • Memberi bukan mengarah kepada kepentingan diri sendiri seperti membuang yang tidak kita perlukan, mengikat si penerima, menekan atau mengharapkan imbalan
  • Memberi adalah perbuatan yang seluruhnya mengarah kepada kepentingan si penerima
  • Yesus mengajar, perbuatan memberi tidak perlu dipamerkan [Mat. 6:3]
  • Perbuatan memberi dijiwai oleh perasaan sukacita, bukan perasaan terpaksa, keharusan, kuatir, atau sedih. Kenapa ? Karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita [2 Kor. 9:7]
  • Inilah hakikat memberi yang paling dalam dan luhur dan yang melahirkan kebahagiaan bagi penerima dan pemberi [Kis. 20:35]
  • Memberi kepada sesama :
[1]. Memberi kasih kepada orang lain. Cth. Pemudi ke pemuda
[2]. Memberi kasih kepada orang tua

SIKAP HATI KETIKA SUDAH DIBERKATI TUHAN

SIKAP HATI KETIKA SUDAH DIBERKATI TUHAN
(Lukas 5:8)

Bagaimana sikap hati kita ketika sudah diberkati Tuhan? Hidup ini dapat diibaratkan seperti pesta : ada persiapan, ada pelaksanaan, dan ada akhir sesudah pesta.

Dalam bacaan ini, Yesus memberi perintah kepada Petrus : “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (ay. 4). Perintah ini sangat asing bagi Petrus sebab sebagai seorang nelayan yang sudah berpengalaman dalam menangkap ikan, Petrus tahu betul bahwa hal ini tidak mungkin. Itu sebabnya Petrus bicara terus terang kepada Yesus : “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras & kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau yg menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” (ay. 5).

Tetapi, apa yang terjadi?
Setelah Petrus dan kawan-kawannya melakukan perintah Yesus, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak (ay. 6).

Apa reaksi, tindakan, atau respons (tanggapan) Petrus ketika melihat dan menyaksikan banyaknya ikan yang mereka tangkap, menunjukkan sikap hatinya yang sebenarnya.
1. Ayat 9 : Petrus takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap. Akibatnya, Petrus tersungkur di depan Yesus dan berkata supaya Yesus pergi daripada-Nya, karena ia menyadari bahwa ia adalah seorang berdosa (ay. 8). Dari ungkapan Petrus ini terlihat dengan jelas, (1). Ketika ia disuruh Yesus untuk menebarkan jala menangkap ikan, sesungguhnya ia dalam keragu-raguan. (2). Petrus merasa sangat bersyukur, sebab Yesus berkenan memakai dia dan perahunya ~ perahu Yakobus dan Yohanes sebetulnya lebih megah. Penerapan : Bukan karena kesempurnaan kita yang menyebabkan kita mendapatkan dan menikmati banyak hal dari Tuhan, tetapi karena kasih dan kemurahan-Nya yang berlimpah-limpah. Yesus tidak pernah lupa untuk memberi upah bagi setiap kita yang memikirkan kepentingan-Nya. Apakah Yesus meninggalkan Petrus ? (ay.10b).
2. Petrus berbagi dengan sesama (ay. 7)
3. Petrus mengutamakan Kristus (ay. 11)

SETIA SAMPAI MATI


SETIA SAMPAI MATI
Wahyu 2 : 8 – 11

PENDAHULUAN
o Hidup percaya kita ibarat sebuah pertandingan atau perlombaan. Permulaan atau awal yang baik dan benar adalah modal untuk mencapai garis akhir
o Kemenangan, hadiah, keberhasilan, kesuksesan,dan gelar sebagai juara akan kita miliki jika kita mengikuti peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dan kita harus sampai kepada titik, garis finish. Itu sebabnya kita perlu berjuang, bertanding, berlomba sedemikian rupa supaya kita mencapai garis akhir.
o Ketika kita masuk atau terjun ke dalam praktik kehidupan nyata, memang tidaklah mudah untuk menjadi seorang pemenang dan sekaligus menyandang juara. Tidaklah mudah untuk tetap setia mengikuti perlombaan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan. Banyak hal yang harus kita hadapi dan lewati. Seringkali yang harus dihadapi itu begitu besar dan begitu berat.

PEMBAHASAN
o Ada tujuh jemaat di Asia kecil yang mana dari setiap jemaat yang berbeda-beda ini, kita dapat memetik berbagai pelajaran, teguran, dan nasihat. Yesus yang memberikan penilaian kepada setiap jemaat ini dan tentunya berbeda-beda penilaian sesuai dengan kondisi, keadaan, dan karakter masing-masing jemaat. Yang jelas dan asti. Yesus selalu memberikan penilaian yang tepat. Jika baik, Ia puji, jika jahat atau salah, Ia cela dan nasihatkan untuk bertobat.
o Jemaat Smirna adalah salah satu jemaat yang dipuji oleh Yesus, tetapi tetap dinasihati supaya : “Setia Sampai Mati” [ay-10b]
o Kata “setia” [pistos – pistis] – Setia, yg percaya, yg beriman, pasti, yg dapat dipercaya.
o Setia kepada siapa saja sangat mudah ketika semuanya berjalan dengan baik seperti yang kita inginkan dan harapkan
o Tetapi menjadi sangat sulit ketika diperhadapkan dengan “sesuatu” yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan atau kehendaki

KONDISI ATAU KEADAAN JEMAAT SMIRNA
[9]—Aku [Yesus] “tahu” kesusahanmu dan kemiskinanmu, ….fitnah dari orang Yahudi
o Tahu [oida] – tahu, mengenal, mengerti, ingat, memperhatikan
o Susah [thlipsis] – kesusahan, penindasan, penderitaan, kesengsaraan, penyiksaan, kesesakan, penganiayaan, beban berat.
o Kemiskinan [ptokheia] – kemiskinan [yang sangat]. Secara harfiah, kata ini berarti keadaan seorang pengemis
o Fitnah [blasphemia] – fitnah, hinaan, umpat, tuduhan yang tidak benar. Ungkapan umum berkata : “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan”.
o Namun engkau kaya [alla plousios] – kaya, dengan limpah
o Jemaat Smirna : Hidup dalam kesusahan, miskin dalam harta [ekonomi], tetapi kaya dalam rohani [hubungan yang intim, dekat, dan erat dengan TUHAN].
o Yang ideal bagi manusia untuk layak dipuji : kaya harta & kaya iman. Itu kerinduan kita
o Ingat, kesetiaan diuji lewat kemiskinan dan kekayaan
o Kondisi umum manusia : [1]. Miskin harta, hidup susah, miskin juga iman [2]. Miskin harta, tetapi kaya iman [3]. Kaya harta, miskin iman [Jemaat Laodikian- Why. 3:17-18] [4]. Kaya harta, kaya juga iman.

NASIHAT YESUS SUPAYA JEMAAT SMIRNA TETAP SETIA
o Jangan takut [meden phobou] – Janganlah sedikitpun takut - terhadap apa yang harus [melleis – mello] – bersegera, pasti, akan, hampir - engkau derita [paskhein – paskho] – mengalami, menderita, menderita kematian.
o Iblis akan melemparkan beberapa orang ke dalam penjara. Iblis di sini [bdk. Ayat 9 – jemaah Iblis = orang Yahudi yang memfitnah]

BAGAIMANA SUPAYA JS KUAT & AKHIRNYA TETAP SETIA
o Harus tahu bahwa tujuan dimasukkan ke dalam penjara : untuk dicobai [peirastete – peirazo] – mencoba, menguji, menjebak [supaya jatuh ke dalam dosa], menggoda
o Kesusahan ada masanya akan berakhir [Badai pasti berlalu]
o Inilah Firman dari Yang Awal [protos] & Yang Akhir [eskhatos] – Yesus Penguasa dari Sejarah
o Yesus telah mati dan hidup kembali [Yesus penakhluk maut]

UPAH BAGI JEMAAT SMIRNA JIKA TETAP SETIA
o Jika menang [nikon], akan dikaruniakan mahkota kehidupan. Ini berhubungan dengan karangan bunga yang diberikan kepada pemenang dalam pertandingan-pertandingan, hidup yang menganding hak istimewa yang khusus, kegembiraan.
o Tidak akan [ou me] – pasti tidak akan diganggu - mengalami kematian yang kedua [Why. 21:8] – menunjuk kepada hukuman yang kekal dan lautan api yang menyala-nyala.
o Ilustrasi : Udang, bila bergerak maju, maka ia akan maju dengan perlahan-lahan sekali. Tetapi pada saat ia mengalami kejutan sedikit saja, maka ia dengan cepat sekali melompat mundur ke belakang. Saat masalah datang, orang cenderung mundur dari pelayanan, mogok dalam beribadah, mundur dari TUHAN.

MENJALANI HIDUP SECARA JUJUR


MENJALANI HIDUP SECARA JUJUR
Yakobus 1:19-27

Penekanan pada bagian firman Tuhan ini menjelaskan tentang bahayanya menipu diri sendiri. Di ayat 22 : “….kamu menipu diri sendiri”. Ayat 26 : “…ia menipu dirinya sendiri. Apabila seorang Kristen berdosa karena Iblis menipu dia, ini merupakan suatu masalah, tetapi apabila ia menipu dirinya sendiri, masalahnya jauh lebih serius lagi. Banyak orang menipu diri sendiri dengan berkta “saya sudah diselamatkan padahal sebenarnya tidak (bdk. Mat. 7:22-23). Yang lebih tragis lagi, ada orang-orang percaya yang sedang menipu diri sendiri berkenaan dengan kehidupan Kristen mereka. Mereka berkata bahwa mereka rohani, padahal sebenarnya tidak. Perlu ditegaskan bahwa yang menjadi ciri atau ukuran kedewasaan rohani adalah apabila seseorang berani menghadapi diri sendiri secara jujur, mengenal diri sendiri, dan mengakui keperluan/kebutuhannya. Ciri orang yang belum dewasa adalah menjalani kehidupan kekristenannya dengan kepura-puraan (bdk. Why. 3:17)
Kenyataan (realitas) rohani dihasilkan dari hubungan yang benar seseorang dengan Allah melalui firman-Nya. Firman Allah adalah firman yang menguduskan, itu sebabanya Alkitab berkata, “Kuduskanlah mereka dengan kebenaran, firman-Mu adalah kebenaran” (Yoh. 17:17). Apabila kita sungguh-sungguh berpegang pada kebenaran Allah, maka kita tidak akan mungkin menjalani kehidupan ini dengan berbuat curang, berpura-pura, atau menipu diri sendiri. Oleh sebaba itu, untuk menjalani suatu kehidupan yang jujur di hadapan Allah dan sesama kita, maka kita perlu mempunyai tanggung jawab yang besar, serius, sungguh-sungguh, dengan didasari komitmen yang tinggi terhadap firman Allah. Hal-hal inilah yang sedang dibicarakan Yakobus dalam perikop firman Tuhan ini. Sebenanya, di dalam bacaan ini, Yakobus menjelaskan adanya tiga tanggung jawab kita terhadap firman Allah. Dalam pertemuan kali ini, kita akan membahas secara luas dan mendalam salah satu diantaranya dan ini merupakan sesuatu yang mutlak penting karena merupakan dasar atau fondasi dari sikap kita terhadap firman Allah. Kita harus melakukan tanggung jawab kita dan tidak bisa kita menghindar darinya. Kenapa? Ingat ! Allah “turut bekerja”

TANGGUNG JAWAB PERTAMA : “MENERIMA FIRMAN” (19-21)

Di ayat 21, Yakobus menyebut firman Allah sebagai “…firman yang tertanam di dalam hatimu..” Kalau kita melihat sekilas, kata ‘firman yang tertanam’ sepertinya ada kesan bahwa firman itu hadir di dalam hati secara asalan atau secara kebetulan sama seperti tanaman liar yang tidak ditanam, tetapi tiba-tiba saja sudah ada di tengah-tengah benih yang kita tanam. (Bdk ~ Seseorang yang menanam padi di ladang, tetapi tumbuh rumput liar). Jika digali dari bahasa aslinya, maka kata ‘tertanam’ (bah. Yunani “emphuton” ~ dari kata ‘emphutos’), artinya ‘yang ditanam’. Dari akar kata ini jadi tersingkap bagi kita bahwa yang dimaksud dengan ungkapan “tertanamnya firman dalam hati” oleh karena ada yang menanamnya. Siapa yang menananmnya? Untuk menjelaskan hal ini, kita perlu mendalami tentang perumpamaan Yesus tentang seorang penabur dalam Matius 13:1-9, 18-23. Yesus mengumpamakan firman Allah sebagai benih dan hati manusia sebagai tanah/lahan. Yesus melukiskan empat macam hati : (1). Hati yang keras ~ tanah di pinggir jalan = hati yang tidak memahami dan menerima firman dan karenanya tidak menghasilkan buah, (2). Hati yang dangkal ~ tanah yang berbatu-batu = sangat peka tetapi tidak memiliki kedalaman, dan karenanya tidak menghasilkan buah, (3). Hati yang bersemak duri ~ di tengah semak duri = hati yang tidak sungguh-sungguh bertobat dan membiarkan dosa menghimpit firman itu, dan karenanya tidak menghasilkan buah, (4). Hati yang subur ~ tanah yang baik = hati yang menerima firman dan membiarkannya berakar, dan akhirnya menghasilkan buah yang berlimpah-limpah.

Ujian akhir dari keselamatan kita adalah buah, artinya suatu kehidupan yang berbuah (watak/perilaku kekristenan dan pelayanan terhadap sesama untuk kemuliaan Allah). Ada pun buah itu di antaranya : jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Kristus (Rm. 1:16), pertumbuhan dalam kekudusan (Rm. 6:22), kerelaan untuk membagi apa yang kita miliki bagi orang yang membutuhkan (Ciri gereja mula-mula dan salah satu tujuan pemanggilan Abraham), sifat-sifat rohani (buah Roh ~ Gal. 5:22-23). Perlu kita perhatikan bahwa di dalam buah yang benar terdapat benih yang akan menghasilkan buah yang banyak bahkan buah yang lebih banyak lagi (Yoh. 15:1-5)

Kita berbuah karena firman Allah berakar secara dalam di dalam hidup kita yang sanggup membawa kita ke dalam pertumbuhan yang baik, benar, dan sehat. Kita berbuah karena firman Allah bekerja secara leluasa di dalam kehidupan kita. Kita berbuah karena firman itu bukan sekadar menjadi logos (kata-kata yang mati) yang hanya kita ketahui di dalam pikiran kita atau firman itu hanya sebagai sebuah pengetahuan bagi kita, tetapi yang lebih utama karena firman itu menjadi rhema atau bagian dari tabiat, watak, karakter, perangai, kelakuan, atau tingkah laku kita. Firman itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita, artinya firman itu menjadi bagian dari tabiat atau perbuatan yang selalu kita lakukan.

Firman Allah tidak akan pernah dapat bekerja secara maksimal mengubah kehidupan kita kecuali kalau kita menerimanya dengan cara yang benar. Yesus tidak hanya berkata, “Camkanlah apa yang kamu dengar” (Mrk. 4:24), tetapi Ia juga berkata, “Perhatikanlah cara kamu mendengar” (Luk. 8:18). Banyak sekali orang sedang berada dalam keadaan yang sangat menyedihkan, yaitu …”sekalipun mereka mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti” (Mat. 13:13). Mereka menghadiri kelas pemahaman Alkitab, membaca buku-buku rohani, mendengarkan siaran rohani melalui radio dan televisi, mendengarkan kaset-kaset khotbah, mengikuti berbagai seminar, menghadiri kebaktian di gereja, tetapi tampaknya tidak pernah bertumbuh dengan baik dan sehat. Pertanyaan : “Apakah ini kesalahan guru atau pendeta mereka”? Barangkali demikian, tetapi mungkin juga kesalahan pendengar. Karena kemerosotan dalam kehidupan rohani, orang bisa saja menjadi “lamban dalam hal mendengarkan” (Ibr. 5:11). Tentunya, kita ingin agar benih firman sungguh-sungguh tertanam di dalam hati kita dan Yakobus memberikan kepada kita beberapa petunjuk berkaitan dengan hal ini :
1. Cepat Untuk Mendengar (19a)
Kata ‘cepat’ (bah. Yunani ~ “takhus”, artinya cepat, segera, seketika itu juga) Alkitab berkata, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17). Contoh : (1). Pelayan yang cepat mendengar panggilan majikannya, (2). Seorang ibu yang cepat mendengar tangisan bayinya, (3). Markus 4:37-39, (4). 2 amuel 23:14-17), (5). Lukas 15:21-23), (6). Yohanes 11:28-29)
2. Lambat Untuk Berkata-kata (19b)
Kata lambat (bah. Yunani ~ “bradus”, artinya lambat, lamban, berdekatan dengan arti “nothroi” (nothros), artinya malas. Di satu sisi, Alkitab berkata, supaya kita jangan lamban dan malas. Bahkan di dalam Lukas 24:25, Yesus dengan tegas menyebut “orang bodoh bagi hati yang lamban”. Hati yang lamban itu dapat diilustrasikan dengan pengalaman Paulus ketika berlayar dalam perjalanannya menuju Roma (Kis. 27:7). Tetapi di sisi lain, Alkitab mengingatkan kita supaya lambat untuk berkata-kata. Kita mempunyai dua telinga dan satu mulut. Hal ini mengingatkan kita supaya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Apa dasar Alkitab menasihati kita supaya lambat untuk berkata-kata? Alkitab berkata, : (1). “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi”. (Ams. 10:19), (2). “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya…” (Ams. 17:27a), (3). “Kau lihat orang yang cepat dengan kata-katanya, harapan lebih banyak bagi orang bebal daripada bagi orang itu” (Ams. 29:20). Seorang ahli Taurat di dalam Lukas 10:29, bukannya lambat untuk berkata-kata, malahan ia dengan cepat berbantah dengan Yesus dan bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?” Kesimpulan : “Jika seseorang memberi jawab sebelum medengar, itulah kebodohan dan kecelaannya (BIS ~ Menjawab sebelum mendengar adalah perbuatan yang bodoh dan tercela ~ Ams. 18:13). Ada kuasa dalam perkataan (Ams. 18:21 ~ BIS = Lidah mempunyai kuasa untuk menyelamatkan hidup atau merusaknya, orang harus menanggung akibat ucapannya (bdk. Mat. 12:36-37; Ef. 4:29). Neraka ada pada lidah ~ lidah seperti api. Ilustrasi : Seorang ibu yang kesukaannya mengata-ngatai orang lain ketemu dengan seorang hamba Tuhan serta menyuruhnya memotong ayam dan mencabuti bulu-bulunya sambil berjalan. Yesus ketika membangkitkan Lazarus ari kubur, Ia berkata : “Lazarus, marilah keluar!” (Yoh. 11:43)
3. Lambat Untuk Marah (19c)
Ayat ini sering dikutip oleh orang Kristen untuk mendasari pemahaman, “boleh marah”. Di samping ayat ini, sering juga dikutip firman Tuhan yang berkaitan dengan peristiwa ketika Yesus marah saat mengusir para pedagang di bait Allah dan juga Efesus 4:26 : “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa : janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu”. Pertanyaan : Bolehkah orang Kristen marah? Jawabannya : Boleh, tetapi jangan lupa, Yakobus menasihati kita supaya ‘lambat untuk marah’. Ilustrasi : Perkataan Bpk. Marulak Manurung ketika terjadi pertengkaran di Asrama. Kenapa Yakobus menasihati kita supaya lambat untuk marah? Alkitab berkata: “Orang yang sabar, besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan” (Ams. 14:29). Kata marah berdekatan artinya dengan “berang dan gusar”. Alkitab berkata : “Si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar, banyak pelanggarannya” (Ams. 29:22). Seseorang yang lambat untuk marah, maka orang itu akan bisa menempatkan kemarahannya itu untuk sasaran, maksud, alasan, dan tujuan yang benar dan tepat. Ada kemarahan yang benar, yakni terhadap dosa (Ef. 4:26) dan apabila kita mengasihi Tuhan, maka kita harus membenci dosa dan marah terhadap dosa, bukan justru ramah terhadap dosa (Mzm. 97:10). Inilah yang dilakukan Yesus di bait Allah. Orang yang tidak dapat marah terhadap dosa, maka orang itu tidak memilki kekuatan untuk menolak dan melawannya. Banyak pertengkaran dan perpecahan terjadi di dalam gereja, keluarga, atau di mana pun disebabkan oleh sifat yang cepat marah dan kata-kata yang cepat keluar. Contoh : Petrus di Taman Getsemani : “lambat untuk mendengar, cepat untuk berkata-kata, dan cepat untuk marah, maka akibatnya, ia hampir membunuh orang dengan pedangnya. Yakobus memgingatkan kepada kita supaya jangan marah kepada Tuhan dan firman-Nya karena menunjukkan dosa kita kepada kita. Ilustrasi : Jangan merusak /memecahkan kaca yang menunjukkan diri kita secara terus terang.

MENGUCAP SYUKUR KEPADA KRISTUS

MENGUCAP SYUKUR KEPADA KRISTUS
Lukas 17 : 11 – 19

Pendahuluan
o Merupakan kata yang sering kita dengar dan ucapkan
o Merupakan kehendak Allah di dalam Kristus Yesus bagi kita [1 Tes. 5:18]
o Kita perlu memahami dasar yang benar ketika kita bersyukur
Dalam bacaan ini, kita akan melihat bagaimana seseorang yang mengalami perbuatan Kristus, dia kembali memuliakan Allah dengan suara nyaring, tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Sikap, tindakan dan perbuatannya dapat menjadi teladan bagi kita semua. Siapakah dia dan bagaimana kisah atau ceritanya ?

Pembahasan
[12a] ~ Ketika Yesus memasuki sebuah desa, 10 orang kusta datang menemui Yesus.
Ada apa dengan orang kusta dalam tradisi Israel ? Imamat 13 menjelaskan : orang yang najis, ia harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya harus terurai, ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru : Najis! Najis!, ia harus tinggal terasing di luar perkemahan, ia tidak diperbolehkan memasuki bait Allah, termasuk orang yang terkutuk. Dari segi sosial ~ mereka dikucilkan, dari segi psikologi ~ jiwa mereka tertekan. Kondisi mereka sangat memprihatinkan, mereka dianggap hina, rendah, dan merupakan sampah masyarakat.
[12b] ~ Mereka tinggal berdiri agak jauh. Hal ini menunjukkan bahwa ke 10 orang kusta ini tahu diri bahwa mereka tidak layak mendekat kepada Yesus. Kita tahu, Yesus merupakan Guru yang sangat berpengaruh pada zaman-Nya. Kenapa? Karena Dia mengajar bukan seperti ahli Taurat dan orang Farisi. Tentu Dia memiliki murid dan banyak pengikut yang lain. Hal ini membuat 10 orang kusta tidak berani mendekat.

[13] dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”
Mereka tahu diri tentang siapa mereka, itu sebabnya mereka tinggal berdiri agak jauh, tetapi keberadaan mereka yang tidak layak tidak menghalangi/menyurutkan niat mereka untuk berteriak [eran phonen ~ airo = mengangkat, phone = suara, teriakan ~ mengangkat suara kepada Yesus.

Apa yang terjadi selanjutnya ?
[14a] ~ Lalu Ia [Yesus] memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.”
Kata “memandang” ~ Yun – idon dari akar kata eiden = melihat, menyadari, memperhatikan, mengalami [turut merasakan penderitaan mereka ~ empati bukan simpati]
Dalam tradisi Yahudi, ada proses untuk menetapkan seseorang itu sah berpenyakit kusta, dia harus diperhadapkan dengan imam-imam. Ketika Yesus memerintahkan 10 orang kusta untuk memperlihatkan diri kepada imam-imam, padahal belum sembuh, sebetulnya sangat tidak masuk akal. Tetapi Yesus tidak pernah salah dalam tindakan dan ucapan. Ke 10 orang kusta tidak membantah, tidak protes seperti Naaman, mereka hanya tinggal taat. Iman yang berkuasa harus disertai dengan ketaatan, kalaupun kelihatannya tidak masuk akal.

[14b] ~ Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir
Iman yang ditunjukkan dalam ketaatan membuahkan hasil, ke 10 orang kusta menjadi sembuh, tahir, pulih.

[15-18]
Ke 10 orang kusta itu telah sembuh. Anehnya, hanya satu orang yang kembali memuliakan Allah, tersungkur di depan kaki Yesus, dan mengucap syukur kepada-Nya. Siapakah dia ? Dia adalah seorang asing, yakni seorang Samaria. Ada indikasi bahwa ke 9 orang yang lain adalah orang Yahudi. Orang yang mengaku diri sebagai umat pilihan Allah dan telah mengalami perbuatan Kristus, mereka sama sekali tidak ingat kepada Yesus dan tidak tahu bersyukur [berterima kasih]. Dari ayat 17-18, sangat jelas menunjukkan bahwa Yesus mengkritik pola hidup yang tidak tahu mengucap syukur

Pertanyaan : Apa yang menyebabkan atau mendorong orang Samaria [orang asing] ini kembali memuliakan Allah, tersungkur di depan kaki Yesus, dan mengucap syukur kepada-Nya ? Jawaban yang umum : Karena ia telah menjadi sembuh, pulih, tahir. Itu benar, tetapi di balik kesembuhan tersebut, ada sesuatu yang selalu bergema di dalam hati seorang Samaria ini. Dia sembuh, pulih, tahir oleh karena belaskasihan dan kebaikan Kristus. Dasar kita mengucap syukur adalah karena KRISTUS BAIK, bukan sekadar karena sembuh. Bagaimana kalau seandainya tidak sembuh atau kalau segala sesuatu tidak sesuai dengan yang kita inginkan ? Apakah masih tetap mengucap syukur. Mazmur 118:1 berkata : “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

[19]
Ada bonus khusus yang Kristus siapkan bagi orang Samaria yang mengucap syukur kepada-Nya, yakni dia tidak hanya disembuhkan tetapi juga diselamatkan.

MENIKMATI KEPUASAN HIDUP

MENIKMATI KEPUASAN HIDUP
Hagai 1:1-14

Pendahuluan

Siapa pun kita pasti ingin menikmati kepuasan hidup. Manusia berjuang dengan keras, gigih, dan tidak mengenal lelah, semuanya bertujuan supaya bisa menikmati kepuasan hidup. Namun perlu disadari dengan sungguh-sungguh, bahwa manusia memiliki keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Sebagai contoh, ketika seorang manusia telah lahir ke dunia ini, sang orang tua menginginkan ia bertumbuh dengan sehat, ketika sudah berusia 5-6 tahun, ia diinginkan orang tuanya untuk sekolah [masuk TK], kemudian ingin masuk SD, SMP, SMA, kuliah, setelah kuliah ingin dapat pekerjaan, setelah itu, ingin pekerjaan yang lebih baik lagi dengan gaji yang lebih tinggi, setelah itu, ingin punya rumah, itu belum cukup, ingin punya mobil, setelah sudah merasa mantap, ingin menikah dan mendapatkan dambaan hatinya, setelah itu, ia ingin memiliki anak lagi, demikian seterusnya sampai akhir hidupnya. Alkitab berkata, keinginan manusia itu seperti tanah yang kering yang tidak pernah puas menerima turunnya hujan ke atasnya, seperti seorang perempuan yang mandul yang tidak pernah terpuaskan hatinya untuk mendapatkan anak. Pertanyaannya, apakah manusia itu mengalami kepuasan hidup? Di manakah ia menemukan kepuasan hidup itu? Serta apakah yang harus manusia lakukan supaya mengalami kepuasan hidup tersebut?

Pembahasan

Jika tidak menemukan rahasia kepuasan yang sesungguhnya, maka manusia tidak akan pernah menikmati kepuasan hidup dalam dunia yang sementara ini. Sebagai contoh dari Alkitab, seorang perempuan yang bertemu dengan Yesus di sumur Yakub pada siang hari. Perempuan ini sudah memiliki lima suami, tetapi tidak pernah puas dalam hidupnya, ia ingin lebih dan lebih lagi. Dari konteks cerita ini, Yesus mengarahkan perempuan yang mengalami ketidakpuasan hidup ini untuk menerima air hidup yang akan Kristus berikan. Artinya, kepuasan hidupyang sejati tidak akan pernah manusia temukan dari dunia ini, karena memang dunia ini bukanlah sumber kepuasan. Manusia harus menyadari bahwa kepuasan hidup yang sejati hanya berasal dari Tuhan.

Konteks Bacaan Firman Tuhan

Dalam bacaan firman Tuhan kali ini, khususnya ayat 6, 9a, dan 10 memberi gambaran yang sangat jelas bahwa apa pun yang dilakukan dan dikerjakan bangsa Israel, tidak pernah membawa hasil yang memuaskan dan mereka tidak dapat menikmati kepuasan dari apa yang mereka kerjakan dan usahakan. Kenapa? Jawabannya ada di ayat 9b. Ini menjadi hal yang serius untuk diperhatikan [ayat 5, 7].

Latar Belakang Cerita Firman Tuhan Ini [Ezra 1:1-6]
Setelah dasar bait suci telah diletakkan, ada perlawanan sengit dari kelompok tertentu yang tidak suka bait suci didirikan. Hal ini menyebabkan pembangunan bait suci terhenti selama sekitar 16-18 tahun [Ezr. 4:24]. Orang Israel akhirnya berpikir dan menyimpulkan bahwa belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah Tuhan [ay. 2]. Sikap bangsa Israel ini mendapatkan reaksi, tanggapan, dan teguran yang serius dari Tuhan dengan perantaraan nabi Hagai dan imam besar Yosua bin Yosadak.

Isi Teguran Menjadi Akar Persoalan Bagi Bangsa Israel

Ayat 3-4 : Firman Tuhan datang dengan perantaraan nabi Hagai. Bangsa Israel ditegur karena menomorduakan Tuhan. Bangsa Israel sibuk dengan urusan mereka sendiri [ay. 9b], sementara pembangunan bait Allah terbengkalai. Inilah yang menjadi alasan utama bagi Tuhan sehingga mereka tidak menikmati kepuasan hidup. Cara pertama, : “MEMPRIORITASKAN TUHAN DI ATAS SEGALA SESUATU” [Mat. 6:33]

Yang kedua : “MENAATI TUHAN LEBIH DARI PADA YANG LAIN” [ayat 12]. Ketika Tuhan menyampaiakn tegurannya yang keras kepada bangsa Israel, mereka tidak mengeraskan hati dan berupaya untuk membenarkan diri dengan mencari-cari alasan, tetapi memutuskan untuk menaati Allah dan firman-Nya. Mereka lebih takut kepada Allah daripada masalah, tantangan, dan hambatan yang sedang mereka hadapi. Ketika mereka menaati Allah , maka hidup mereka pun disertai oleh Tuhan [ay. 13]. Kepuasan hidup kita miliki jika Tuhan menyertai hidup kita. Kepuasan hidup bukan ditentukan oleh apa yang kita miliki tetapi ditentukan oleh kita di pihak Tuhan dan Tuhan di pihak kita [Roma 8:31]. Bukankah Alkitab dengan tegas berkata : “Kita aman dalam perlidungan Tuhan yang Maha Pelindung”. Contoh : Yusuf di Mesir, Petrus dan Yohanes di hadapan Mahkamah Agama [Kis. 5:41-42]

Yang ketiga, “MELIBATKAN DIRI DALAM PEKERJAAN TUHAN” [ayat 14]. Pemimpin, imam besar, dan seluruh bangsa Israel datang melibatkan diri untuk melanjutkan kembali pembangunan bait Allah. Apa yang terjadi ketika mereka melibatkan diri? Tuhan berjanji akan memberkati mereka [2:19-20]. Bukan berarti mereka harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan berbagai harapan yang ada, tetapi semuanya harus dihunbungkan dengan pembangunan bait Allah. Jika kita ingin menikmati kepuasan hidup, maka kita perlu melibatkan diri dalam pekerjaan Tuhan. Allah tidak menghendaki kita hanya sebagai penonton saja atau hanya ingin menikmati berkat-Nya saja, tetapi berbuatlah sesuatu sesuai dengan potensi, karunia, dan kemampuan yang telah Tuhan berikan kepada masing-masing kita untuk pengembangan pekerjaan Tuhan atau membangun tubuh Kristus. Mari kita jadikan hidup kita dengan segala yang berkenaan dengan hidup tersebut memiliki keterkaitan dengan pekerjaan Tuhan.

MENGALAMI KEAJAIBAN TUHAN


MENGALAMI KEAJAIBAN TUHAN
Lukas 5:1-11

Pendahuluan

Yesus merupakan pribadi yang sangat berpengaruh dan meskipun Ia tidak mencari popularitas, namun tokoh yang sangat popular dan tokoh terbesar sepanjang masa. Berita tentang Dia begitu cepat tersebar dan tersiar ke berbagai tempat, termasuk daerah Galilea, Yerusalem, Yudea, seberang Yordan, Dekapolis, dan berbagai tempat yang lain. Paling tidak, ada tiga pilar utama sehingga Dia menjadi sosok yang kehadiran-Nya berbeda dari para ahli Taurat dan orang Farisi, yakni : (1). Mengajar (2). Memberitakan Injil (3). Pelayanan mujizat. Akibatnya, banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia. Contoh (1). Peristiwa orang lumpuh disembuhkan (2). Memberi makan 5000 orang (3). Ketika orang banyak mencari Yesus yang sudah bertolak ke seberang. Memang beragam motivasi orang datang kepada Yesus. Hal yang sama juga terjadi pada peristiwa yang kita baca saat ini.

Pembahasan

Nama Yesus yang sudah terkenal, menyebabkan banyak orang datang mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah, namun pantai danau Genesaret dimana Yesus sedang berdiri begitu sempit sehingga buat Yesus pun tidak ada tempat untuk berbicara kepada mereka. Dalam situasi seperti ini, Yesus sangat membutuhkan “sarana” dimana Ia dapat mengajar dengan lebih leluasa dan tidak terhimpit oleh orang banyak yang sudah datang mengerumuni-Nya.

Yesus Naik Ke Perahu Petrus

  1. Yesus melihat dua perahu di tepi pantai
  2. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya
  3. Yesus naik ke perahu Simon. Kenapa Yesus memilih untuk naik ke perahu Simon? Apa karena Simon lebih baik? Atau karena perahunya lebih bagus dibanding perahu yang lain? (Yoh. 15:16; Mrk. 1:20)
  4. Yesus menyuruh Simon untuk menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Ada berbagai kemungkinan alasan untuk tidak mau disuruh : (a). Sedang membasuh jala (b). Sedang kecewa sebab tidak menangkap apa-apa sepanjang malam (c). Sedang lelah sebab baru turun dan bekerja keras sepanjang malam (d). Keluarga yang sedang menunggu di rumah (e). Yesus dalam konteks ini tidak menjanjikan upah apa-apa bagi Petrus. Tetapi, akhirnya Petrus bersedia menuruti perintah Yesus
  5. Yesus duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu

• Tujuan Utama Yesus : “Orang Banyak Mendengar Firman Allah”
A. MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN TUHAN (Hag. 1 & Mat. 6:33 ~ Pengalaman beli porkas. Contoh yang benar : Daud (1 Sam. 30:11-19)
Ketika Yesus sedang mengajar, Petrus sedang ikut mendengar pengajaran Yesus. Di sini, Petrus sebetulnya sedang dipersiapkan supaya berada di dalam kawasan keajaiban Tuhan
Tidak Diberitahukan Oleh Lukas Berapa Lama Yesus Mengajar

FOKUS PERHATIAN YESUS MENUJU KEPADA PETRUS
Ketika Petrus mengurus urusan Tuhan, maka apa yang tidak dipikirkan oleh Petrus, itu yang diberikan oleh Yesus kepadanya.
  1. Setelah selesai berbicara, tidak dikatakan : “Yesus pun pulang” meninggalkan Petrus dalam keadaan kecewa, kesal, dan lain-lain. Tidak. Sebelum Yesus mengajar orang banyak dan menyuruh Petrus untuk menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai, Yesus sudah tahu apa yang menjadi kebutuhan Petrus
  2. Itu sebabnya, Ia berkata (ay. 4b ~ dibaca)
  3. Jawaban Petrus menunjukkan adanya sedikit keraguan dalam hatinya. Kenapa? Simon Petrus menganggap perintah Yesus itu sangat aneh karena hari sudah siang, bukan waktunya lagi untuk menangkap ikan. Kawanan ikan juga biasanya berada dekat pantai, di tempat yang agak dangkal. Petrus adalah seorang nelayan yang berpengalaman. Perintah Tuhan memang banyak yang kelihatannya aneh bagi kita. Itu seringkali menjadi alaan bagi kita untuk tidak melakukannya. Petrus tidak menangkap apa-apa padahal sudah bekerja keras.
  4. Tetapi karena Yesus yang menyuruhnya, Petrus menebarkan jala juga. Yesus yang menyuruh Petrus berjalan di atas air dengan permintaan Petrus. Yesus yang menyuruh dua orang murid-Nya untuk mengambil seekor keledai
  5. Ayat 6 : Setelah mereka melakukannya, apa yang terjadi ? Yang diperintahkan adalah Petrus, tetapi ang melakukannya adalah bersama-sama. Ketaatan ada tiga unsure : (1). Kesegeraan (2). Kesenangan (3). Kesempurnaan
  6. Ayat 7 : Menjadi Berkat; Ayat 8-10 : Takjub atas perbuatan Yesus dan tersungkur; Ayat 11: Mengasihi Sumber Berkat

MENDAPATKAN PERTOLONGAN TUHAN

MENDAPATKAN PERTOLONGAN TUHAN
Matius 4:23-25

Yesus Berkeliling Di Seluruh Galilea
• Berjalan kaki ~ Kasih yang begitu besar

Apa Yang Yesus Lakukan?
1. Mengajar ~ Inteletual
2. Memberitakan Injil ~ Spiritual (mengubah karakter hidup) . Problem manusia ~ Dosa
3. Melenyapkan segala penyakit dan kelemahan ~ Fisik dan mental

Dampak Dari Apa Yang Dilakukan Yesus
1. Tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria ~ Jarak Galilea dengan Siria sangat jauh
2. Dibawa kepada Yesus semua orang yang buruk keadaannya
• Yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara
• Yang kerasukan, yang sakit ayan, dan yang lumpuh
• Sebelum dibawa kepada Yesus, tentulah hal yang wajar jika mereka membawa berobat ke tabib-tabib. Contoh ~ Perempuan 12 tahun pendarahan (Mark. 5:25-29). Ada yang membawa, ada yang dibawa ~ Kerjasama (bdk. Yesus menyembuhkan orang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah)
3. Lalu Yesus menyembuhkan mereka

KUNCI MENEMUKAN JAWABAN

Matius 15:21-28

Pendahuluan
Setiap manusia ingin mendapatkan “sesuatu” yang terbaik dalam hidupnya. Tidak ada orang mengharapkan “sesuatu” yang buruk terjadi dalam hidupnya, baik secara pribadi, keluarga, ataupun secara umum. Untuk mendapatkannya tentu tidak “seperti mudahnya membalikkan telapak tangan”. Ada proses yang harus dilewati secara serius. Biasanya, dalam proses itulah, kebanyakan manusia mundur dan menjadi gagal untuk mendapatkan yang terbaik tersebut.
Pembahasan
[21] Lalu Yesus pergi dari situ [Genesaret/Galilea ~ lih. 14:34] dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon
Yesus menyingkir ke wilayah non-Yahudi dengan 2 tujuan : [1]. Untuk menghindari bentrokan yang belum waktunya dengan orang Yahudi [serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat ~ Mat. 15:1] yang memusuhi-Nya [2]. Untuk mendapat kesempatan menyendiri dengan murid-murid-Nya. Markus 7:24b : “Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan.” Ini membuktikan bahwa pengaruh Yesus dan apa yang diperbuat-Nya telah bergema sampai ke daerah non-Yahudi.

Masalah Yang Sedang Dihadapi Perempuan Kanaan :
[22] …..Datang seorang perempuan Kanaan dan berseru : ‘Kasihanilah aku….anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita’.
Penerapan : Apa masalah yang sedang kita hadapi saat ini ? Perempuan Kanaan tidak putus asa, tidak kebingungan, tidak kehilangan harapan. Apa yang ia lakukan ?
[1]. Ia berseru kepada Yesus.
Kata “berseru” ~ “ekrazen” dari kata “krazo” artinya ~ berseru, berteriak.

Apa yang terjadi ketika ia berseru dan berteriak ?
[23a] Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya
o Seruan yang keluar dari jeritan hati yang terdalam dan sungguh-sungguh ternyata tidak dijawab, tidak diresponi, dan tidak ditanggapi sedikit pun atau sepatah kata pun oleh Yesus
o Penerapan : Bagaimana perasaan kita ketika sedang dalam kesulitan yang sangat besar dan berat dan kita berseru kepada seseorang tetapi mereka tidak menggubris sama sekali ?

[23b] Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.”
o Berteriak-teriak ~ “krazei” artinya “terus berseru”
o Perkataan para murid yang meminta Yesus menyuruh perempuan Kanaan itu pergi : [1]. Semakin memperkecil/mempersulit dia untuk mendapatkan jawaban atas kebutuhannya untuk kesembuhan anaknya. [2]. Bisa saja semakin melemahkan semangatnya untuk berseru lebih sungguh. Kondisinya justru semakin menjadi seperti “sudah jatuh ditimpa tangga pula”. [4]. Menunjukkan suatu sikap yang hanya memikirkan kenyamanan/ketenangan diri sendiri serta menganggap perempuan Kanaan sebagai orang yang tidak layak ditolong
o Penerapan : [1]. Kehadiran kita jangan menambah kesulitan orang lain. [2]. Kita justru harus memikirkan apa yang bisa kita lakukan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. [3]. Jangan seperti sikap/karakter para murid Yesus yang hanya menganggap perempuan Kanaan sebatas orang kafir tanpa pernah tersentuh atau berpikir tentang kesulitan apa yang sedang dialami oleh perempuan Kanaan tersebut.

[24] Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”
o Jawaban Yesus ditujukan kepada para murid-Nya
o Kata-kata ini ingin menegaskan bahwa tujuan kedatangan Yesus hanya kepada orang Israel yang tersesat.
o Jawaban Yesus ini semakin menutup pintu rapat-rapat bagi perempuan Kanaan untuk mendapatkan pertolongan
o Sudah menuju jalan buntu bukan lagi jalan yang terbuka.

Bagaimana Perempuan Kanaan Menanggapi Kondisi Seperti Itu ?
Penerapan : Bagaimana jika kita diperhadapkan dalam kondisi seperti ini ?

[25] Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: Tuhan, tolonglah aku
[2]. Ia mendekat kepada Yesus
o Ketika jalan kelihatannya semakin sulit dan tertutup, semakin dekatlah dengan Yesus, jangan sebaliknya.
[3]. Ia menyembah Yesus
o Kata “menyembah” ~ “prosekunei” dari kata “proskuneo” artinya menyembah [dengan bersujud], bersujud
o Bersujud menunjuk tanda hormat, takut atau memohon sesuatu kepada seseorang yang dianggap mampu menolong.
[4]. Ia meminta tolong
o Sama seperti seseorang yang sedang berada di suatu tempat yang sangat berbahaya dan tidak punya kuasa untuk keluar dari tempat tersebut, ia hanya mengharapkan pertolongan orang yang berada di luar tempat berbahaya tersebut dan yang berkuasa menolongnya.

Setelah perempuan Kanaan mendekat, sujud menyembah, dan minta tolong, apa yang terjadi ?
Penerapan : Setelah kita melakukan seperti yang dilakukan oleh perempuan Kanaan tersebut, apa kira-kira yang kita tunggu menjadi jawaban Yesus ?

[26] Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” [Markus 7:27 : “Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti ang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”]
o Yesus menjawab perempuan Kanaan dengan kata-kata yang keras
o Kata “anak-anak” menunjuk kepada Israel. Yesus mengatakan bahwa Injil harus diberitakan kepada Israel dahulu, karena rencana Allah : “Israel dimaksudkan untuk menjadi utusan Injil.”
o Kata “anjing” ~ “kunaria” dari kata “kunarion”, artinya anjing kecil, anjing piaraan, teman rumah tangga, bukan anjing liar yang makan bangkai.
o Jangan fokus kepada kata-kata yang keras, tetapi harus kita arahkan hati kita kepada konteks : “Yesus telah mulai menjawab dan berinteraksi dengan dia.”
o Yesus memperingatkan perempuan Kanaan bahwa bangsa Yahudi menganggap orang-orang asing sebagai anjing, orang yang asing terhadap perjanjian, orang kafir, dan penyembah berhala.
o Saat bicara dengan perempuan Kanaan, Yesus secara resmi belum ditolak oleh bangsa Israel sehingga dapat dikatakan belum waktunya bagi Yesus untuk menolongnya.
o Paulus juga melakukan hal yang demikian [Kis. 13:46; 28:25-28], namun ketika Israel menolak, Paulus pergi kepada bangsa-bangsa lain [Roma 11:11]

[27] Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”
[5]. Ia tidak marah, tdak sakit hati, dan tidak tersinggung mendengar perkataan Yesus
o Dengan kata lain, seolah-olah ia ingin mengatakan: “Baiklah Tuhan, meskipun saya dianggapanjing, ada juga remah-remah buat saya.”
o Perempuan ini memiliki kesungguhan, ketekunan, dan kerendahan hati

[28] Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.
o Perempuan ini percaya bahwa Yesus yang penuh cinta kasih sanggup menyembuhkan anaknya : [1]. Walaupun ia seorang kafir yang dianggap sebagai anjing [2]. Walaupun anaknya berada di tempat yang jauh
o Yesus menjawab perempuan Kanaan dengan pujian : Hai ibu, besar imanmu
o Yesus menjawab kerinduan perempuan tersebut sesuai dengan yang ia kehendaki, yakni anaknya sembuh.

M E N C A R I T U H A N

M E N C A R I T U H A N
Amos 5:4-6

Pendahuluan
Kata “mencari” merupakan kata yang tidak asing dalam Alkitab. Upah atau berkat kita ditentukan oleh “apa yang kita cari” dan “bagaimana kita mencari”.

Pembahasan
Apa yang kita cari ~ fokus dan motivasi yang dicari ialah TUHAN. Bagaimana kita mencari ~ kualitas ketika mencari ~ sungguh-sungguh, serius, ulet, gigih, tekun, bersemangat.
Ketika kita datang beribadah, perlu kita bertanya kepada diri sendiri, “apa yang kita cari” atau “kita sedang mencari apa”? Ini sangat penting, karena merupakan landasan/dasar ibadah orang percaya. Benarkah kita datang beribadah untuk mencari TUHAN? [Yes. 55:6]. Jika benar, kita mencari apa dari diri TUHAN? Allah itu roh adanya [Yoh 4:24]. Dalam Alkitab, Allah sering digambarkan seperti keberadaan manusia [antropomorfis]

Kita Mencari Apa Dari Diri TUHAN ?
1. Mencari MATA TUHAN [Mzm. 34:16a] ~ Melihat, memperhatikan, mengawasi [Ams. 15:3]
2. Mencari TELINGA TUHAN [Mzm. 34:16b] ~ mendengar [Yes. 59:1b]
3. Mencari TANGAN TUHAN [Yes. 59:1a ; Mat. 6:33b] ~ Berkat untuk keperluan hidup ~ Menolong, memberkati, menyelamatkan,
4. Mencari HATI TUHAN [Mat. 6:33a] ~ Apa yang TUHAN inginkan dalam hidup saya.
5. Mencari KAKI TUHAN [Yoh. 12:3] ~ Apa yang aku perbuat untuk TUHAN? Meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal harganya.

MENANG DALAM PERLOMBAAN IMAN

MENANG DALAM PERLOMBAAN IMAN
Ibrani 12:1-4

Latar Belakang
Surat Ibrani berbeda dengan suat-surat lainnya, karena penulisnya tidak dicantumkan. Hal ini menimbulkan dugaan-dugaan mengenai siapa penulisnya. Pada umumnya diduga bahwa Pauluslah yang menulis surat Ibrani, kendati dugaan tersebut ditentang oleh para ahli Alkitab berdasarkan beberapa alasan. Selain tidak adanya ucapan salam pembuka yang menjadi kebiasaan Paulus, mereka merasa bahwa gaya penulisan kitab Ibrani berbeda dengan gaya penulisan Paulus di dalam surat-suratnya yang lain. Pada tahun 150 ses. Masehi, Pantaenus dari Aleksandria, seorang guru yang disegani di jamannya, menyatakan bahwa Pauluslah penulis Ibrani. Ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa Pauluslah penulisnya. Ibrani 10:34 [KJV] sang penulis berkata, “Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan penghukumanku.”. Karena itu, penulis Ibrani adalah seseorang yang telah dipenjarakan. Ibrani 13:23 menyinggung tentang nama Timotius.

Kelihatannya, ada masalah serius yang sedang terjadi bagi orang-orang Yahudi yang sudah percaya kepada Kristus. Mereka yang menerima surat ini sudah merasa lelah dan ingin menyerah saja, tetapi penulis surat Ibrani mendorong mereka agar terus maju dalam kehidupan Kristen mereka, seperti seorang yang sedang melakukan perlombaan atau pertandingan. Penulis surat Ibrani memberikan dorongan semangat kepada mereka agar terus bertekun dan maju sekalipun keadaan tampaknya sukar.

Pembahasan
o Hal ini juga yang sering terjadi dalam hidup orang-orang Kristen. Dengan berjalannya waktu dan diperhadapkan dengan berbagai ujian atau proses, tantangan yang datang silih berganti, persoalan yang begitu berat dan besar, seringkali membuat kita menjadi lemah [bah. Yunani ~ Kamete – kamno ~ berkecil hati] dan putus asa [bah. Yunani ~ Ekluomenoi – ekluo ~ putus asa, kecewa, berkecil hati, menjadi sangat letih [bahkan sampai pingsan]

o Padahal firman TUHAN berkata, “Marilah kita berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” [12:2c]. Kita harus berlomba [bah. Yunani ~ Agona – agon ~ perlombaan, pertandingan [di bidang olah raga], perjuangan] dengan tekun [[bah. Yunani ~ Hupomones – hupomone ~ ketekunan, kesabaran, ketabahan, ketekunan menantikan] dalam perlombaan yang diwajibkan[bah. Yunani ~ ton prokeimenon emin – kata prokeimenon dari akar kata “prokeimai” ~ diwajibkan atau ditentukan. [Bdk. 1 Kor. 9:24-27]. bagi kita”
1. Kita harus menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa hidup ini adalah ibarat sebuah perlombaan
2. Kerinduan kita adalah menjadi seorang yang menang. Allah juga menghendaki kita menjadi umat yang menang bahkan lebih dari pemenang.
3. Untuk menjadi seorang pemenang, hal yang tidak bisa ditawar-tawar adalah kita harus masuk dalam perlombaan. Kita tidak bisa menjadi seorang pemenang jika kita hanya sebagai penonton saja.
4. Kita harus terus bertekun di dalam perlombaan tersebut, jangan sampai kehilangan semangat atau menjadi lemah dan putus asa.

Bagaimana Supaya Kita Menang Dalam Perlombaan ?
1. “Murid-murid yang lain dapat melakukannya, kamu juga pasti dapat.”
2. “Coba pikirkan manfaat yang akan diperoleh tubuhmu.”
3. “Nah, perhatikan anak-anak lain ~ lihat bagaiaman mereka melakukannya.”






[1]. Pandanglah ke sekeliling Anda kepada para pemenang
[12:1a] : Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yg mengelilingi kita.”
o Saksi [bah. Yunani ~ Marturon – martus ~ saksi, martir. Kata “marturion” ~ bukti
o Saksi yang dimaksud di sini adalah saksi-saksi yang dperkenalkan dalam pasal 11. Mereka adalah pahlawan-pahlawan iman.
o Di sini tidak dikatakan bahwa sekarang orang-orang beriman ini sedang memandang kita dari surga, sementara kita di dunia ini sedang berlomba, seperti penonton yang duduk di sebuah stadion. Kata “saksi” di sini tidak berarti “penonton”.
o Mereka sedang memberi kesaksian kepada kita bahwa Allah dapat menolong kita agar kita sampai ke tujuan. Akhir hidup mereka menjadi kesaksian, teladan, contoh, dan bukti bagi kita, di mana mereka telah berhasil menyelesaikan perlombaan yang diwajibkan kepada mereka.
o Ada orang yang jarang membaca PL, kecuali kitab Mazmur dan Amsal. Di samping banyak keuntungan lain, kita akan kehilangan banyak sekali pertolongan rohani jika kita tidak membacanya. Roma 15:4 : “ketekunan” ~ “sabar menanggung” dan “penghiburan” ~ “memberi semangat atau dorongan” [Ams. 18:14]
o Salah satu cara yang terbaik untuk mengembangkan ketekunan dan dorongan adalah dengan berusaha mengenal orang-orang saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam PL, yakni orang-orang saleh yang ikut berlomba dan menang.
o Menghadapi masalah dengan keluarga, bacalah tentang Yusuf, pekerjaan Anda terlalu berat untuk Anda, selidikilah kehidupan Musa, tergoda untuk balas dendam, lihatlah bagaimana Daud menangani persoalannya, jika diperhadapkan dengan tantangan iman, bacalah tentang Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego, dll
o Kita memperoleh dorongan semangat dari teladan orang-orang lain. Yang sangat penting diingat : “Pastikan tidak berusaha untuk mencontoh teladan yang salah.”

[2]. Pandanglah kepada diri Anda sendiri
[12:1b] : “Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yg begitu merintangi kita.”
o Kata “menanggalkan” [bah. Yunani ~ Apothemenoi – apotithemi ~ menanggalkan, membuang, menaruh]
o Apa yang mau ditanggalkan ?
[a]. Semua beban
o Ketika latihan, para atlet biasanya memakai beban latihan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi perlombaan. Tidak ada atlet yang memakai beban latihan dalam pertandingan, karena beban latihan akan memperlambat kecepatan dan mengganggu daya tahannya.
o Apa “beban” yang harus kita tanggalkan supaya kita dapat memenangkan perlombaan? Kata “beban” [bah. Yunani ~ Ongkos ~ beban, rintangan]. Tentunya, segala sesuatu yang menghambat/ merintangi kemajuan kita.
o Beban itu bisa berupa “hal-hal yang baik” menurut pandangan orang lain. Seorang atlet yang ingin menang tidak memilih antara yang baik dan yang buruk, ia memilih antara yang lebih baik dan yang terbaik.
o Bisa juga berupa “trauma masa lalu”, akar pahit yang berkepanjangan [bdk. Ibr. 12:15], dll
o Ilustrasi : Seorang yang memikul beban yang sangat berat [Mat. 11:28]

[b].Semua dosa yang begitu merintangi kita [bah. Yunani ~ euperistaton - euperistatos ~ yang dengan mudah memikat/merintangi kita]
o Dosa tidak pernah memuluskan atau mempermudah kita untuk menang atau berhasil dalam perlombaan
o Dosa selalu menghalangi kita untuk berlomba dengan tekun dan dengan semangat
o Dosa itu sifatnya mengikat, memperbudak, menguasai, bahkan membuat kita untuk sulit bergerak dengan leluasa di dalam perlombaan iman kita.
o Karena penulis Surat Ibrani tidak menyembutkan salah satu dosa tertentu, maka yang dimaksudkannya mungkin adalah dosa ketidakpercayaan
o Ketidakpercayaanlah yang menghambat bangsa Israel sehingga tidak masuk ke tanah perjanjian, dan ketidakpercayaan itu pulalah yang menghambat kita sehingga tidak dapat memenangkan perlombaan dengan baik.
o Iman di dalam Kristuslah yang memungkinkan kita untuk bertekun dalam memenangkan perlombaan
o Contoh : Sejak kecil, Tara Holland mengimpikan menjadi Miss Amerika [Pada tahun 1994, ia mengikuti kontes Miss Florida [runner-up]. Ia mencoba mengikuti kontes yang sama di tahun berikut [tetap runner-up]. Ia tergoda untuk menjadi kecewa dan putus asa, tetapi ia tidak melakukannya. Ia memusatkan perhatian pada tujuannya. Langkah yang ia lakukan : [1]. Ia pindah ke Kansas dan tahun 1997, ia mengikuti kontes Miss Kansas dan akhirnya memenangkan mahkota dan tahun yang sama ia pergi untuk dimahkotai sebagai Miss Amerika. Tara Holland memandang impiannya diwujudkan. Dalam sebuah wawancara setelah kontes, seseorang menanyakan kepada Tara rahasia keberhasilannya. [2]. Ia mengakui bahwa setelah kalah dua kali berturut-turut di kompetisi tingkat negara bagian, ia telah tergoda untuk menyerah dan putus asa, tetapi sebaliknya ia pergi dan menyewa sangat banyak video kontes lokal, negara bagian, Miss Universe, Mis World dan menontonnya berkali-kali. Memandang dirinya sendiri sebagai seorang pemenang, adalah kunci keberhasilannya. Reporter lain bertanya, “Apakah Anda gugup berjalan sepanjang landasan di depan jutaan orang yang menonton di televisi”? Ia jawab “Tidak, saya tidak gugup sama sekali”. Karena ia telah melewati landasan itu ribuan kali.

[3]. Pandanglah kepada Yesus Kristus [2-4]
o Perlombaan dilakukan dengan “mata yang tertuju kepada Yesus.” Mata yang memandang tentang siapa Yesus dan apa yang telah dilakukan-Nya.
o Hanya dengan memandang kepada Yesus Kristuslah kita diselamatkan dan dikuatkan atau dimampukan untuk memenangkan perlombaan.
o Memandang kepada Yesus Kristus artinya “berharap dan mempercayakan diri”. Hal ini juga melukiskan “sikap iman” bukan sekadar tindakan yang dilakukan satu kali saja.
o Kenapa perlu memandang kepada Yesus ?
[a]. Yesus memberi kita kesanggupan
o Yesuslah yang memimpin [bah. Yunani ~ Arkhegon – arkhegos ~ memimpin, pemimpin, perintis] kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan [bah. Yunani ~ Teleioten – teleios ~ sempurna, sejati, dewasa ; ~ teleioo ~ menyempurnakan, menyelesaikan, menjadikan nyata, berhasil memenuhi]
[b]. Yesus memberikan teladan [Yesus memulai/masuk dalam perlombaan] dan Ia juga menyelesaikannya. Yesus tekun memikul salib
o Menanggung salib meliputi penghinaan, penderitaan, perlawanan dari pihak orang-orang berdosa
o Di kayu salib, Ia menanggung semua dosa dari semua orang di dunia ini. Ia tekun menanggung dan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh Bapa-Nya kepadaNya untuk dilakukan-Nya
o Walaupun para pembaca surat Ibrani sudah mengalami penganiayaan, namun mereka belum sampai mencucurkan darah [Ibr. 12:4]. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang sampai mati syahid, tetapi di dalam pergumulan Yesus melawan dosa, Ia sampai mencucurkan darah-Nya sendiri
[c]. Apa yang menyanggupkan Yesus untuk tetap tekun memikul salib ?
o Perlu kita ingat, bahwa setelah Firman menjadi Manusia, Ia sepenuhnya manusia. Iman Yesuslah yang telah menyanggupkan Dia untuk tekun menanggung semua itu. Mata iman-Nya terus tertuju kepada “sukacita yang disediakan bagi Dia.”
o Jangan fokus kepada “penderitaan/kesulitan yang sedang kita hadapi sekarang ini” tetapi fokuslah kepada perkara besar yang Allah siapkan di depan kita.”
o Ilustrasi : Seorang tukang taman, bunga mawar. [bdk. Roma 8:18]

MENANG ATAS KEJAHATAN

MENANG ATAS KEJAHATAN
Bacaan : Roma 12:21

Pendahuluan
Hidup adalah perjuangan. Hidup ibarat sebuah gelanggang pertandingan yang mana kita tidak dapat menghindar darinya, tetapi harus ikut bertanding atau berlomba dan harus sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk memenangkan pertandingan tersebut. Kenapa ? Karena dunia dimana kita hidup sekarang ini adalah dunia yang makin marak dengan bentuk-bentuk kejahatan. Tentunya, ada oknum yang berkarya dibalik semua bentuk kejahatan tersebut yaitu, kuasa si Jahat, Iblis, Setan, kuasa-kuasa kegelapan. Tuhan berfirman, “Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging…..” [Ef: 6:12]. Firman Tuhan juga menegaskan: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” Allah menghendaki kita menjadi orang yang menang. Itu sebabnya kita disebut sebagai umat yang lebih dari pemenang. Tidak ada satu kuasa apapun di dunia ini yang sanggup dan mampu mengalahkan orang-orang percaya. Tidak ada satu kekuatan apapun di bawah kolong langit ini yang dapat menghancurkan orang percaya. Kita menang atas apapun bukan karena kekuatan kita tetapi karena Allah yang menjamin kemenangan kita. Namun kenyataannya, banyak orang yang mengaku Kristen [pengikut Kristus] , tetapi hidupnya selalu didominasi oleh kekalahan. Dia kalah terhadap kejahatan, kalah terhadap kuasa kedagingan, kalah terhadap kuasa-kuasa dunia ini, membalas kejahatan dengan kejahatan yang pada akhirnya justru semakin menambah kejahatan, dan tidak sedikit yang justru terikat dan berkompromi dengan kuasa-kuasa kegelapan. Dalam hal ini, ada sesuatu yang menjadi pertanyaan besar yakni, “Kenapa hal itu bisa terjadi? Dalam khotbah kali ini kita akan membahas bagaimana kita dapat mengalahkan kejahatan dan hal-hal yang terkait dengan kejahatan tersebut.
Pembahasan
Pertama-tama kita harus tahu siapa kita, bagaimana nilai kita, berapa harga kita.
A. Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah [Kej. 1:26; Mzm. 8:5-7]
• Tidak ada dalam Alkitab dikatakan bahwa malaikat diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, oleh sebab itu malaikat lebih rendah dari manusia. Malaikat diutus oleh Bapa untuk melayani orang-orang percaya. Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh bisa melakukan mujizat atau tidak.
• Allah tidak menciptakan sesuatu yang jahat, sebab segala yang diciptakan-Nya itu sungguh amat baik [Kej. 1:31]
• Allah tidak menciptakan Iblis sebagai Iblis. Pendapat yang lebih dapat dipertanggungjawabkan, Iblis diciptakan bukan sebagai Iblis tetapi sebelumnya ia sebagai seorang malaikat [Lucifer] yang melayani di hadirat Allah yang pada akhirnya dibuang ke bumi oleh Tuhan dan ia berhasil menyeret 1/3 malaikat ikut memberontak kepada Allah untuk bersama dengannya.
• Ketika malaikat yang jatuh itu menjadi Iblis, berarti Iblis lebih rendah dari malaikat, malaikat lebih rendah dari manusia, berarti manusia dua tingkat lebih tinggi dari Iblis.
• Kita yang sudah menerima Kristus dan percaya kepada-Nya diberi “kuasa” [eksousia ~ kuasa supernatural] untuk menjadi anak-anak Allah [Yoh. 1:12].
• Kenapa ? Kematian Kristus memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut [Ibr. 2:14], juga Anak Allah menyatakan diri-Nya dengan tujuan untuk membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis [1 Yoh. 3:8]
• Kita juga sebagai tubuh Kristus dan Kristus adalah Kepala Gereja. Kristus mengatakan bahwa Ia mendirikan gereja-Nya di atas batu karang yang kokoh [teguh] dan alam maut tidak dapat menguasainya [Mat. 16:18]
• Penerapan : Apakah masih ada ikatan kuasa gelap yang mengikat kita sekarang ini? ]Bdk. Luk. 13:10-11, 16]
B. Sampai kapanpun, manusia tidak akan pernah bersahabat dengan Iblis [Kej. 3:15]
• Firman TUHAN mengatakan, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya….”
• Permusuhan berarti juga perlawanan lawan dari persahabatan. Jadi sangat jelas, tidak ada persahabatan antara manusia dengan Iblis, itu sebabnya tidak ada istilah “KOMPROMI” antara orang percaya dengan Iblis. Gelap dengan terang tidak akan pernah bisa bersatu.
• Persahabatan yang ditawarkan oleh Iblis adalah persahabatan semua, kepura-puraan, itu hanya merupakan trik, taktik, strateginya untuk menghancurkan kita
• Hati-hati ! Iblis bisa memberikan kekayaan, kehormatan, kemuliaan, tetapi tujuan akhirnya adalah untuk menjebak dan menjatuhkan kita
• Orang sering berkompromi dengan Iblis karena ingin mendapatkan “sesuatu” darinya dan biasanya adalah “jalan pintas” [instant] [Bdk. Kis. 16:16-19; Mat. 4:8-10]
• Sampai kapanpun, Iblis tetap menjadi musuh murid Kristus, karena hal itu sudah merupakan Firman TUHAN. Di samping itu, selama pelayanannya di dunia ini sangat jelas terlihat bahwa Iblis juga merupakan musuh utama Kristus, dan Iblis sangat gemetar ketika berhadapan dengan Kristus. Kuasa kristus tidak dapat dibandingkan dengan kuasa Iblis.
• Itu sebabnya Alkitab berkata : “Karena itu, tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari daripada-Mu” [Yak. 4:7]; “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh….[1 Pet. 5:8-9a]
• Penerapan : Apakah masih ada ikatan kuasa gelap yang mengikat kita sekarang ini? [Bdk. Luk. 13:10-11, 16] Apakah ada di antara kita yang sampai hari ini dengan percaya diri mengaku sebagai pengikut Kristus, tetapi tetap saja berkompromi dengan Iblis ? [Kis. 19:18-19 ~ pemberesan yang tuntas, tanpa ada kompromi lagi]
• Mengapa kita tidak ada istilah kompromi dengan Iblis sebagai bapa segala pendusta tersebut ? Karena kehadiran Iblis tidak pernah membawa kebaikan bagi kita, tetapi selalu menyiksa [Bdk. Mrk. 5:5 ~ Orang yang kerasukan setan di Gadara ~ memukuli dirinya dengan batu, ketika msetan-setan tersebut memasuki babi-babi, maka babi tersebut pun terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya; Mrk. 9:20-22; Yoh. 10:10a]
• Masih lanjutan firman TUHAN dari Kej. 3:15b : “….keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
• Dari ayat di atas jelas, kita punya senjata yang jauh lebih ampuh disbanding Iblis. Kita diberi kuasa untuk meremukkan kepala si Ular. Kepala ular sangat menentukan kehidupan ular, jika kepalanya remuk, berarti sebetulnya ia tidak berdaya sama sekali erhadap kita. Kita hanya diremukkan tumit, ini tidak mematikan, hanya menyakiti dan melukai, jika tumit diremukkan, masih bisa diamputasi dan tetap hidup.
• Gambaran dari kuasa Iblis : ular sawah yang dipotong-potong, kelihatannya menyeramkan, tetapi sebetulnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena Kristus telah mengalahkannya di bukit kalvari
C. Roh di dalam kita lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia
• Yesus tidak membiarkan kita yatimpiatu di dunia ini, Ia sudah mengutus ROh Kudus [parakletos] sebagai Penghibur dan Penolong yang tinggal di dalam kita selama-lamanya. Berilah diri dipimpin oleh ROH Kudus
• Dalam diri kita ada dua keinginan : keinginan daging dan keinginan Roh. Mana yang menang ? Seorang Eskimo mengadu dua ekor anjing.
D. Kita harus selalu berbuat baik [Roma 12:21]
• Iblis selalu punya rencana untuk berbuat kejahatanKita berbuat jahat, Iblis berbuat jahat, maka kita ssederajat dengan Iblis dan kita tidak akan pernah bisa mengalahkannya
• Iblis berbuat jahat, kita berbuat baik, mak kita lebih tinggi dua tingkat dari Iblis, maka sudah pasti kita dapat mengalahkannya
• Demikian juga dengan sesama: dengan berbuat baik, maka kita akan menang dan seteru kita akan sadar [malu] atas diri dan kesalahannya. Kita harus memberkati orang lain dan jangan mencaci-maki, dengan demikian kita akan menang dan diberkati [Mat. 10:12-13; 1 Pet. 3:8-9; 1 Pet. 2:23]
• Kristus menang atas Iblis, ketika Ia tidak membalas caci-maki orang-orang yang menyalibkan-Nya, justru Dia mengampuni mereka.

MEMPEROLEH JANJI-JANJI ALLAH

MEMPEROLEH JANJI-JANJI ALLAH
Yakobus 5:17-19

PENDAHULUAN
Siapapun kita, pasti sangat rindu untuk berhasil memperoleh dan menikmati janji-janji Allah. Amin!!! Kita tahu, janji Allah sangat banyak dan firman Tuhan berkata bahwa setiap janji Allah itu adalah “ya” dan “amin”. Janji Allah bukan “janji gombal” tetapi janji yang murni dan janji yang dapat dipercaya. Janji Allah berbeda dengan janji manusia. Meskipun manusia memiliki Perjanjian Linggarjati, tetapi manusia sering melanggar janji. Banyak orang Kristen yang hidup dewasa ini mengandaskan hidup mereka kepada sesuatu yang tidak berguna karena tidak memiliki pengertian yang utuh tentang apa yang harus dilakukan dan dimiliki sehingga memperoleh janji-janji Allah tersebut. Dengan kata lain, banyak orang Kristen akhirnya kecewa, menyalahkan Tuhan, dan menjadi pahit hati terhadap-Nya, karena yang terjadi dalam hidupnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Masalah muncul, ketika kenyataan dengan harapan menjadi berbeda. Harapan mereka, janji-janji Allah yang luar biasa itu tergenapi atau terealisasi dalam hidupnya, tetapi kenyataannya tidak. Akhirnya, manusia beralih kepada kondisi pesimis, ragu, tawar, dan tidak lagi bergairah berpegang kepada janji-janji Allah. Pertanyaannya : “Apa yang harus kita lakukan supaya kita memperoleh dan menikmati janji-janji Allah”? Kita akan menjawab pertanyaan ini dengan mempelajari Yakobus 5:17-18. Dalam bacaan ini, Yakobus mengambil Elia sebagai contoh dari seorang yang benar yang mana kehidupan pelayanannya menyaksikan dan mempertontonkan kekuasan Tuhan yang sangat luar biasa.

PEMBAHASAN
Latar belakang kejadian ini terdapat dalam 1 Raja-Raja 16:29-pasal 18. Dalam konteks bacaan ini, ketika Elia bertugas sebagai Nabi, Israel dipimpin oleh seorang Raja bernama Ahab. Ia merupakan seorang raja yang sangat jahat di mata Tuhan. Ia mengawini Izebel, beribadah kepada Baal, mendirikan rumah ibadah untuk para Baal, bahkan disimpulkan, ia melakukan lebih banyak dosa daripada yang dilakukan oleh semua raja Israel yang memerintah sebelum dia. Akibatnya, TUHAN murka kepadanya [1 Rj. 16:30-33] dan akan menjatuhkan hukuman yang sangat berat kepada Ahab yang mana dampaknya berpengaruh kepada seluruh bangsa Israel.

EMPAT PRINSIP DASAR
Yakobus memulai perkataannya dengan mengatakan “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita….” Elia sebagai manusia biasa dipakai Tuhan yang luar biasa dengan cara-cara yang luar biasa untuk menyatakan kuasa kemuliaan-Nya di dalam kehidupan pelayanannya. Ada 4 prinsip dasar bagaimana supaya Elia memperoleh janji Allah dalam konteks ini :

1. Elia mengetahui kehendak [keinginan, isi hati ] Tuhan bagi bangsa Israel, yaitu
  • Tidak akan turun hujan selama 3 tahun dan 6 bulan [ay. 17; 1 Rj. 17:1].
  • Langit menurunkan hujan pada akhirnya [ay. 18; 1 Rj. 18:1] Langkah pertama : Elia tidak bertindak gegabah dan sembarang bicara menurut kehendak, keinginan, dan pengertiannya semata tentang hukuman apa yang akan Tuhan jatuhkan kepada bangsa Israel. Ia mengetahui kehendak Tuhan. Itu sebabnya, dengan penuh wibawa, otoritas, dan penuh keberanian dia berkata kepada Ahab : “Demi Tuhan yang hidup……”.
  • Pertanyaan/Penerapan : Apa kehendak Tuhan bagi kita? Ada orang berkata, “tidak perlu lagi kita mencari kehendak Tuhan, sudah pasti kehendak Tuhan itu baik, benar, indah, dll dengan mengutip Yer. 29:11, kehendak Tuhan itu bukankah sudah tertulis semuanya dalam Alkitab]
  • Perkataan/pernyataan itu tidak sepenuhnya benar. Kehendak Tuhan yang umum [seluruh isi Alkitab], kehendak Tuhan yang khusus [firman yang menjadi rhema dalam hidup kita] [Kis. 16:6-10; 2 Sam. 7:1-5] Kita juga harus tahu dengan pasti apa kehendak [isi hati, keinginan, visi] Tuhan dalam “suatu kondisi/situasi” tertentu bagi hidup kita.
  • Orang yang mengetahui kehendak Tuhan di dalam segala situasi dan kondisi kehidupannya akan melahirkan pribadi yang kuat dan tangguh dalam menghadapinya. Rahasia mengetahui kehendak Tuhan diawali dari Roma 12:1-2 : Hamba ~ Sahabat ~ Mempelai. Empat tahap : bersahabat dengan dunia ~ mengasihi dunia ~ menjadi serupa dengan dunia ~ dihukum bersama-sama dengan dunia.
Ketika Elia mengetahui kehendak Tuhan, tidak otomatis hujan tidak turun dan hujan turun, dia perlu mengikuti langkah berikutnya.

2. Elia percaya kepada Tuhan.
  • Hal ini terlihat secara jelas di dalam 1 Raja. 18:2: “Lalu pergilah Elia memperlihatkan diri kepada Ahab”. Di ayat 1, Tuhan berbicara kepada Elia dan ia taat menunjukkan dirinya kepada Ahab, karena ia percaya perkataan Tuhan. Kita tidak cukup hanya mengetahui kehendak Allah, kita juga harus menunjukkan respon yang sungguh-sungguh terhadap kehendak-Nya dengan mempercayai Dia dan apa yang dikatakan-Nya.
  • Catatan : Jangan pernah meragukan apa yang sudah Tuhan katakan sekalipun Anda tidak memiliki apa-apa untuk melakukan apa yang Tuhan suruh Anda lakukan, demikian sebaliknya. Contoh : Petrus tidak memiliki perlengkapan apa-apa ketika Yesus menyuruh dia berjalan di atas air. Tugas Petrus adalah menunjukkan kepercayaannya dengan menaati apa yang Yesus katakan. Jangan bergantung kepada situasi dan kondisi yang tidak mungkin, karena tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Kita harus percaya akan apa yang Allah katakan kepada kita. Ilustrasi : Abraham/Sara.
  • Tindakan mempercayai dari Elia tetap saja tidak membuat janji itu menjadi kenyataan. Elia perlu mengikuti langkah berikutnya

3. Elia bersungguh-sungguh berdoa [tidak jemu-jemu] [Yak. 5:17a; 1 Rj.18:41-44].
  • Setelah Elia mengetahui kehendak Tuhan secara pasti dan telah percaya akan apa yang dikatakan Tuhan, maka yang ia lakukan selanjutnya adalah bersungguh-sungguh berdoa. Dalam bahasa Yunani kata ini berarti [1]. “dan ia berdoa di dalam doa” ~ hati yang turut berdoa [memiliki kehidupan doa]. Tidak berdoa di dalam doa artinya ~ seseorang yang dengan malas mengucapkan kata-kata yang dirumuskan/dihafalkan di dalam keagamaan atau melakukan doa sebagai suatu tradisi keagaan saja. [2]. Elia berdoa di dalam iman ~ doa yang dipanjatkan karena mengenal kehendak Allah. Robert Law berkata, “doa bukannya melaksanakan kehendak manusia di sorga, melainkan melaksanakan kehendak Allah di dunia”.
  • Penerapan : Memiliki hati yang percaya harus disertai dengan doa yang sungguh-sungguh/tekun dan bergumul agar Tuhan membuat hal yang telah Ia katakan kepada kita itu terjadi.
  • Contoh kegigihan/ketekunan dalam berdoa [Luk. 18:1-5, Hana, dan Monica [ibu Agustinus]. Kita harus meminta dan terus meminta sampai Tuhan mengabulkan doa-doa kita. Kita harus terus berdoa sampai mengalami terobosan

4. Elia menerima iman dari Allah
  • Dengan berdoa sungguh-sungguh, akhirnya menimbulkan iman di dalam hati Elia. Ia memberitahu Ahab dalam iman bahwa mereka harus cepat bergerak karena hujan akan turun. Mengingat di sana sudah 42 bulan tidak turun hujan, deklarasi ini sungguh merupakan deklarasi iman yang luar biasa.
  • Iman inilah yang membuat janji Allah menjadi kenyataan dan terlaksana
  • Kita harus berdoa sampai iman datang. Yang menimbulkan iman bukan “logos” tetapi “rhema” [Mat. 4:4; Roma 10:17]

MEMBERI SECARA KRISTIANI

MEMBERI SECARA KRISTIANI
Lukas 21:1-4

Pendahuluan

Tampaknya memberi adalah mudah, mulai dari memberi permen sampai memberi cinta, pokoknya asal kita mempunyainya, kita bisa memberikannya. Betulkah demikian ? Sebetulnya memberi adalah sangat sulit, sebab perbuatan memberi sangat mudah bergeser hakikat dan artinya menjadi perbuatan lain.

Pembahasan

1. Memberi bisa bergeser artinya menajdi “membuang”.
o Artinya : “memberi karena mempunyai kelebihan [tidak sanggup atau kewalahan] memeliharanya atau karena tidak memerlukannya lagi.
2. Memberi dapat berubah menjadi “mengikat”.
o Memberi dengan tulus, berarti kita harus ikhlas apapun yang akan diperbuatnya dengan pemberian kita itu.
3. Memberi bisa juga merosot menjadi “menyuap”.
o Artinya : jika kita memberi dengan tekanan agar orang itu berbuat sesuatu untuk kita
o Hal ini bisa terjadi kepada sesama kita dan juga kepada TUHAN
4. Memberi dapat pula merosot menjadi “membayar”.
o Misalnya : melunasi iuran RT dan rekening listrik. Ini bukan memberi. Didalamnya ada unsure keharusan dan peraturan
o Persembahan kita kepada TUHAN pun bisa merosot artinya jika itu dipandang sebagai suatu keharusan, kewajiban, atau peraturan, atau hanya jika gereja menetapkan bahwa sekian % dari perolehna kita harus diberikan kepada TUHAN
o Paulus berkata dalam 2 Kor. 9:7 : “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan”. Kata “paksaan” dari kata Yunani ~ “anagkes” berarti keharusan atau peraturan

Ajaran Yesus Tentang Memberi Dengan Benar
  • Yesus memuji perbuatan memberi dari seorang janda miskin dengan berkata “…..janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya”.
  • Kata “miskin “ [bah. Yunani ~ ptokhe – ptokhos ~ sangat miskin, yang berharap kepada TUHAN, yang tidak berguna. Ini keadaan dari seorang pengemis.
  • Dua sikap yang dipertentangkan Yesus : “memberi dari kelimpahan” dan “memberi dari kekurangan”.
  • Kata “kelimpahan” [bah. Yunani ~ perissenontos – perisseuo ~ berlebih, berkelebihan, berlimpah-limpah.
  • Kata “kekurangan” [bah. Yunani ~ husterematos – husterema ~ kekurangan, hal-hal yang tidak ada.
  • Janda miskin ini memberi seluruh nafkahnya. Kata “nafkah” [bah. Yunani ~ bion – bios ~ nafkah, kehidupannya sehari-hari
  • Perbuatan memberi yang lazim adalah “memberi dari kelimpahan”. Kita memberi kalau kita sendiri sudah cukup atau kalau kita sendiri mempunyai banyak. Namun, Yesus memberi konsep yang baru tentang memberi, yaitu mau memberi walaupun kita sendiri masih kekurangan.

Konsep Yesus Tentang Memberi
  • Hal itu terlihat secara jelas dari seluruh hidup dan pengajaran-Nya
  • Ia memberi pengampunan, pengakuan, pertolongan, penghargaan, bahkan memberi diri-Nya sendiri
  • Yesus memberi karena Ia mengasihi dan bersedia berkorban. Ia memberi nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang [Mrk. 10:45]
  • Motivasi Allah dalam memberikan putra-Nya, yaitu “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini”. [Yoh. 3:16]
  • Hidup dan pekerjaan Yesus merupakan dasar yang baru bagi perbuatan memberi.
  • Memberi merupakan pengorbanan dan cinta, bukan hanya pada waktu kelimpahan, tetapi juga pada waktu kekurangan
  • Memberi bukan mengarah kepada kepentingan diri sendiri seperti membuang yang tidak kita perlukan, mengikat si penerima, menekan atau mengharapkan imbalan
  • Memberi adalah perbuatan yang seluruhnya mengarah kepada kepentingan si penerima
  • Yesus mengajar, perbuatan memberi tidak perlu dipamerkan [Mat. 6:3]
  • Perbuatan memberi dijiwai oleh perasaan sukacita, bukan perasaan terpaksa, keharusan, kuatir, atau sedih. Kenapa ? Karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita [2 Kor. 9:7]
  • Inilah hakikat memberi yang paling dalam dan luhur dan yang melahirkan kebahagiaan bagi penerima dan pemberi [Kis. 20:35]

KELUAR DARI PENJARA KEHIDUPAN

KELUAR DARI PENJARA KEHIDUPAN
Kisah Para Rasul 12:1-19

Pendahuluan

Banyak kehidupan manusia dewasa ini berada dalam kondisi “lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya”. Suatu kehidupan yang terpenjara dan terbelenggu oleh berbagai masalah dan kesulitan. Hal ini sebetunya tidak harus membuat kita kaget atau merasa asing lagi. Buktinya, dalam gereja mula-mula, kita bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana jemaat yang baru berdiri tersebut selalu diperhadapkan dengan berbagai kesulitan hidup. Hal ini terjadi bukan hanya dalam lingkungan jemaat, tetapi juga sudah menjalar sampai kepada para pemimpin jemaat.

Pembahasan

Tindakan Herodes
  • Bertindak dengan keras untuk menekan anggota-anggota jemaat (ay. 1)
  • Menyuruh membunuh Yakobus dengan pedang (ay. 2)
  • Hal ini menimbulkan dukacita yang sangat mendalam bagi keluarga dan seluruh jemaat
Tindakan Herodes Selanjutnya
Menyuruh menangkap Petrus (ay. 3a)Dasar penangkapan : Herodes melihat bahwa pembunuhan terhadap Yakobus menyenangkan hati orang Yahudi. Tujuan : Untuk memikat hati rakyat Yahudi atau supaya tetap punya hubungan yang baik dengan orang-orang Yahudi.
Penerapan :
1. Belum selesai dukacita atas kematian Yakobus, sudah menyusul lagi dengan penangkapan Petrus
2. Herodes merupakan tipe manusia yang tidak peduli apakah tindakannya benar atau salah, yang utama : posisinya aman (kerajaannya kokoh) dan orang-orang Yahudi merasa senang
3. Herodes merupakan gambaran dari manusia yang menyalahgunakan kekuasaan untuk menindas orang yang lemah
4. Herodes merupakan tipe manusia yang hidupnya hanya fokus untuk menyukakan manusia (Gal. 1:10)
5. Orang-orang Yahudi merupakan gambaran dari manusia yang mengaku hidup beragama/ber-Tuhan, tetapi atas nama agama juga menindas orang lain
6. Orang-orang Yahudi merupakan gambaran dari orang beragama yang bersatu dengan penguasa dunia ini untuk menghancurkan orang-orang percaya

Petrus Ditangkap Pada Waktu Hari Raya Roti Tidak Beragi (ay. 3b)

Keadaan Petrus Yang Tidak Berdaya
@. Petrus dipenjarakan di bawah penjagaan yang sangat ketat : ada 4 regu (masing-masing terdiri dari 4 prajurit = 16 orang). Dua orang di tempat dimana Petrus ditahan, dan dua orang lagi berjaga di muka pintu (ay. 4a, 5a, 6b)
@. Petrus dibelenggu kedua tangannya dengan rantai yang kuat (ay. 6a)

Penerapan : Mengapa begitu ketat penjagaan Petrus dibuat oleh Herodes?
(1). Herodes takut kalau-kalau rakyat memberontak, sebab sebagian besar penduduk Yerusalem sangat menghormati Petrus
(2). Bisa juga, Herodes telah mendengar dari para imam bahwa Petrus dan kawan-kawan pernah luput dari penjara di waktu malam (Kis. 5:18-20)
(3). Begitu luar biasanya penguasa dunia ini memakai cara apapun untuk membuat orang percaya terpenjara secara ketat dengan tujuan untuk dibinasakan
(4). Herodes ingin supaya rencananya jangan sampai gagal. Dia hanya menunggu waktu saja, yakni sehabis Paskah (Luk 22:1) ~ Perayaan Roti Tidak Beragi (tujuh hari), Petrus dihadapkan ke depan orang banyak (orang-orang Yahudi) (bdk. Ay. 19)

Sikap Jemaat Ketika Petrus Di penjara
@. Jemaat dengan tekun mendoakan Petrus kepada Allah (ay. 5b; Kis. 1:14)
@. Di rumah Maria ~ banyak orang berkumpul dan berdoa (ay. 12)

Sikap Petrus Ketika Ia Dipenjara (ay. 6a)
@. Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai
@. Petrus tidur pada malam sebelum Herodes menghadapkannya kepada orang banyak ~ pada saat bahaya maut yang mengancamnya sudah dekat.
@. Petrus tidur nyenyak karena percaya kepada Rajanya (ay. 7, 9, 11). (Yunus >< Yesus ~ Dapat tidur pada saat angina rebut di laut dan danau ~ Yes. 30:15). Paulus juga tidak takut menghadapi kematian (Flp. 1:21-23)

Pertolongan Tuhan
@. Tiba-tiba, seorang malaikat Tuhan berdiri dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu ~ Pada malam sebelum Herodes membunuhnya ~ pertolongan yang tepat pada waktunya (Pengk. 3:11)
@. Penjara tidak bisa menghalangi kehadiran pertolongan Tuhan, justru penjara tersebut menjadi jalan bagi Tuhan untuk mengutus malaikat-Nya.

Yang Terjadi Ketika Malaikat Tuhan Hadir (ay. 7-11)
@. Malaikat menepuk Petrus untuk membangunkannya
@. Rantai yang mengikat dan membelenggu Petrus gugur/lepas
@. Petrus mengikuti malaikat itu keluar ~ melewati tempat kawal pertama dan kedua
@. Mereka sampai ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota
@. Pintu gerbang besi yang menuju ke kota itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka.

Jemaat Tercengang-cengang Atas Pertolongan Tuhan (ay. 13-17)

KUNCI KEBERHASILAN DAUD MASUK, MEREBUT, DAN MENETAP DI YERUSALEM

KUNCI KEBERHASILAN DAUD MASUK, MEREBUT, DAN MENETAP DI YERUSALEM
2 Samuel 5:6-10

Pendahuluan

Kota Yerusalem memiliki arti yang sangat penting, baik bagi Daud pada zamannya maupun bagi rencana besar Allah sesudahnya. Pertama, ketika Daud diangkat/diurapi menjadi raja, pusat pemerintahannya berada di Hebron dan hanya memerintah suku Yehuda saja selama 7 tahun 6 bulan [2 Sam. 5:5]. Ke sebelas suku lainnya masih berpihak kepada kekuasaan Saul. Di samping itu, pada zaman Daud, kota Yerusalem terletak di daerah bangsa Kanaan [didiami oleh orang-orang Yebus] yang dikelilingi oleh bangsa Israel. Kedudukan kota ini membahayakan Yehuda karena memisahkannya dari daerah Benyamin dan Efraim. Itu sebabnya, merebut Yerusalem merupakan langkah penting ke arah penyatuan kerajaan Daud. Kedua, kota ini pada akhirnya merupakan kota paling terkemuka di bumi, karena di sinilah pusat kegiatan penebusan Allah bagi umat manusia. Ini terbukti dari sejarah, bahwa Yesus disalibkan dan dibangkitkan dari antara orang mati di Yerusalem, dan Roh Kudus dicurahkan atas para pengikut Yesus, juga di Yerusalem.

Ada pertanyaan penting muncul : “Kenapa Daud harus merebut kembali kota Yerusalem dari orang-orang Yebus? Bukankah bangsa Israel sudah sejak lama masuk ke tanah Kanaan di bawah kepemimpinan Yosua?” Ada apa? Kenapa?
• Suku Yehuda pernah menakhlukkan Yerusalem [Hak. 1:8], dan diserahkan kepada suku Benyamin, tetapi penduduk kota tersebut [orang Yebus] tidak dihalau secara tuntas oleh mereka[ Hak. 1:21]
• Penerapan : Berapa banyak kita mengalami kesulitan dan kesusahan hidup, karena tidak pernah serius membereskan hal-hal yang menjadi penghalang bagi kita untuk maju seutuhnya di dalam Tuhan?

APA SELANJUTNYA YANG DILAKUKAN DAUD ?
• Daud dan orang-orangnya pergi ke Yerusalem, menyerang orang Yebus, penduduk negeri itu ~ ayat 6a
1. Daud memimpin pasukannya untuk bersama-sama menyatukan kekuatan merebut dan menyerang musuh
2. Daud dan pasukannya mengikrarkan bahwa orang Yebus adalah musuh yang harus diperangi tanpa ada istilah kompromi, ternyata tidak semudah membalik tangan, karena ada tantangan dan hambatan dari orang Yebus.

REAKSI ORANG YEBUS
• Orang-orang Yebus berkata :
  1. Engkau tidak sanggup masuk ke mari
  2. Orang-orang buta dan orang-orang timpang akan mengenyahkan engkau
• Daud sebagai seorang raja yang dipanggil, dipilih, dan ditetapkan oleh Tuhan untuk menggembalakan/memimpin umat Israel mendapatkan kata-kata yang sangat melemahkan, meremehkan, dan melecehkan.
• Takut kepada orang medantangkan jerat [Ams. 29:25] [BIS ~ Takut akan pendapat orang mengakibatkan kesusahan. Percayalah kepada Tuhan, maka engkau akan aman]

[A]. SIKAP DAUD ~ AYAT 7 & 9 : “Tetapi Daud merebut kubu pertahanan Sion, kota Daud.” DAUD TIDAK TERPENGARUH DENGAN APA KATA ORANG, TETAPI PERCAYA DENGAN APA KATA TUHAN
  • Penerapan : Siapa kita selama ini ? Apakah sebagai pelaku [orang-orang Yebus] atau sebagai korban [Daud yang dilecehkan]
  • Teladan Daud : [1]. Ketika berhadapan dengan Abang-abangnya [1 Sam. 17:28-29] [2]. Ketika berhadapan dengan Goliat [1 Sam. 1:40-47 ; bdk. 1 Sam. 17:11]
  • DAUD FOKUS KEPADA APA YANG SUDAH DILAKUKAN TUHAN DALAM HIDUPNYA [1 Sam. 17:31-37] = DAUD MENGINGAT KEBAIKAN TUHAN
  • SIKAP KITA : TIDAK TERPENGARUH DENGAN KEADAAN [ Contoh : Petrus yang berjalan di atas air], PERCAYA [Contoh : Perempuan 12 tahun pendarahan]
  • JANGAN TIRU SIKAP YANG SALAH DARI 10 PENGINTAI
[B]. DAUD MEMBANGUN/MENYUSUN STRATEGI [AYAT 8]
  • Strategi yang lahir dari hasil hubungan dengan Tuhan [2 Sam. 5:17-25]
[C]. PENYERTAAN TUHAN [AYAT 10 ; bdk. 1 Sam. 18:14].Contoh lain : Yusuf dan Musa [Kel. 33:15-16]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...